Inflasi April Tembus 4%, Wall Street Terkulai di Pembukaan

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
12 May 2021 20:54
Final numbers for the Dow Jones industrial average are displayed after the close of trading on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in Manhattan in New York, U.S., October 11, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) terkapar pada pembukaan perdagangan Rabu (12/5/2021), menyusul lompatan inflasi April yang jauh melampaui ekspektasi pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 105,3 poin (-0,3%) pada pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 10 menit menjadi 177,9 poin (-0,52%) ke 34.091,22. S&P 500 melemah 26,8 poin (-0,65%) ke 4.125,28 dan Nasdaq drop 128,9 poin (-0,96%) ke 13.260,52.

Kekhawatiran inflasi memang membayangi benak pasar. Data inflasi di AS ternyata lebih buruk, dengan melesat 4,2% (tahunan) dan 0,8% (bulanan). Angka itu jauh lebih buruk dari ekspektasi pasar dalam poling Dow Jones yang memperkirakan angka 0,2% (bulanan) dan 3,6% (tahunan).


Sementara itu, inflasi inti-yang mencerminkan daya beli masyarakat karena mengecualikan komoditas yang harganya diatur pemerintah-melambung 3% (tahunan) dan 0,9% (bulanan), jauh dari proyeksi pasar sebesar 0,3% (bulanan) dan 2,3% (tahunan).

Sebelumnya, inflasi Maret tercatat sebesar 0,6% (bulanan) dan 2,6% (secara tahunan) pada Maret.

"Pasar telah menyentuh level tertingginya dengan pembukaan kembali ekonomi telah tercermin di reli baru-baru ini. Dus, tak diragukan lagi inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi bisa memicu tekanan," ujar Direktur Pelaksana E-Trade Mike Loewengart seperti dikutip CNBC International.

Saham-saham raksasa teknologi yang sudah terkena aksi jual sepanjang bulan ini, kembali dilego berjamaah. Saham Alphabet (induk usaha Google), Microsoft, Netflix, Facebook, Apple hingga produsen piranti lunak Nvidia dan AMD kompak anjlok.

Koreksi saham teknologi kemarin sempat membuat indeks Nasdaq terbanting hingga 2% sebelum berakhir flat. Indeks saham unggulan (bluechip) yakni Dow Jones ambles hingga 450 poin, menjadi koreksi terburuk sejak Februari. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 0,9%.

Reksa dana yang bisa diperdagangkan (exchange traded fund/ETF) Technology Select Sector SPDR terbanting hingga lebih dari 1% pekan ini dan 3% sepanjang bulan ini, karena investor mengkaji ulang valuasi saham teknologi yang terhitung sudah mahal tersebut.

Di sisi lain, saham sektor energi dan perbankan membantu mengerem koreksi, di mana saham JP Morgan melesat 1% sedangkan Occidental Petroleum menguat 1,4%. Saham Chevron juga terpantau naik.

Pelaku pasar khawatir kenaikan inflasi bisa memaksa bank sentral menaikkan suku bunga acuan dan memperketat kebijakan moneter. Mereka mulai menyangsikan pernyataan bos bank sentral AS Jerome Powell yang jauh-jauh hari menyatakan bahwa kenaikan inflasi sifatnya hanya sesaat.

Indeks Volatilitas CBOE-yang dianggap mencerminkan tingkat kecemasan pasar karena mengacu pada pasar derivatif (kontrak opsi) indeks S&P 500, melompat ke 23,73 atau tertinggi dalam 2 bulan terakhir. Pada Rabu waktu setempat, indeks ini terus melanjutkan peningkatan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading