Analisis Teknikal

Efek Pola Hammer Berlanjut, Emas Terus Melaju Naik

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
29 May 2020 19:06
Suasana pasar pusat perhiasan Cikini, Jakarta Pusat
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (29/5/2020) melanjutkan kenaikan hari sebelumnya. Pada pukul 17:52 WIB, emas diperdagangkan di US$ 1.725,5/troy ons, menguat 0,42% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Kamis kemarin, logam mulia ini menguat 0,56% setelah sebelumnya mencatat pelemahan tiga hari beruntun.

Secara teknikal, pergerakan emas yang disimbolkan XAU/USD membentuk pola Hammer di grafik candle stick harian pada Rabu (27/5/2020) lalu. Pola ini merupakan kebalikan dari Shooting Star yang muncul pada 18 Mei lalu, dan membuat emas melemah hingga ke bawah US$ 1.700/troy ons kemarin.


Jika dilihat pada grafik harian, body (badan) candle stick kecil di bagian atas, sementara tail (ekor) panjang ke bawah. Pola tersebut disebut Hammer, dan kerap dijadikan sinyal pembalikan arah atau XAU/USD akan bergerak naik, alias emas berpeluang kembali menguat.

Secara psikologis, pola Hammer menunjukkan trader yang mengambil posisi long (beli) emas berusaha mendominasi pasar.

xauGrafik: Emas (XAU/USD) Harian
Foto: Refinitiv


Selain itu, emas juga bertahan di atas Bullish Channel (garis biru), sehingga munculnya pola Hammer menjadi sinyal bullish continuation atau berlanjutnya tren naik.

Level psikologis US$ 1.700/troy ons masih menjadi support (tahanan bawah) terdekat, selama bertahan di atas area tersebut, emas berpeluang menguat menguji resisten (tahanan atas) di US$ 1.720/troy ons.

Emas kemarin mengakhiri perdagangan di bawah level tersebut, sehingga momentum penguatannya sedikit mengendur. Jika pada perdagangan hari ini, Jumat (29/5/2020) mampu berakhir di atas resisten, maka emas berpeluang melesat lebih jauh di awal pekan depan.

Target penguatan terdekat ke US$ 1.746-1.750/troy ons, jika berhasil dilewati emas akan membuka jalan menuju US$ 1.800/troy ons.  Pola Hammer ini akan batal jika emas melemah hingga ke bawah US$ 1.680/US$.



Secara fundamental, emas kembali menguat akibat memanasnya hubungan Amerika Serikat dengan China. Setelah kisruh masalah asal virus corona, kini Hong Kong menjadi latar belakang sengitnya kedua negara.

harapan akan perekonomian segera bangkit setelah mulai banyak negara yang memutar kembali roda perekonomian serta semakin banyaknya vaksin potensial untuk virus corona menjadi sentimen negatif bagi emas.

Presiden AS, Donald Trump, Selasa kemarin mengatakan sebelum akhir pekan ini Amerika Serikat akan mengumumkan langkah apa yang akan diambil ke China terkait Undang-undang keamanan yang akan diterapkan di China. Undang-undang tersebut memicu demo berdarah di Hong Kong beberapa hari terakhir.

Parlemen China sudah menyetujui undang-undang tersebut yang memuluskan jalan untuk segera diterapkan.

Merespon hal tersebut, Presiden Trump mengatakan akan mengadakan konferensi pers terkait China pada Jumat waktu setempat. Tetapi ia tidak menjelaskan dalam konferensi pers tersebut berkaitan dengan apa, yang pasti pasar sudah dibuat cemas.

Tensi AS-China, serta perkembangan pandemi penyakit virus corona (Covid-19) akan menjadi penggerak emas dalam jangka pendek, sehingga akan ada pergerakan naik-turun yang cukup signifikan. Tetapi untuk jangka panjang, outlook emas masih bullish.

Pada bulan April lalu, Bank of America (BofA) memprediksi harga emas akan ke US$ 3.000/US$ dalam 18 bulan ke depan. Analis BofA melihat perekonomian global yang mengalami resesi, kemudian stimulus fiskal serta peningkatan neraca bank sentral akan membuat pelaku pasar memburu emas sebagai investasi, sehingga harganya akan melonjak.

Pandemi Covid-19 yang membuat perekonomian global menuju jurang resesi.

Akibatnya bank sentral di berbagai negara menerapkan kebijakan ultra longgar dengan memangkas suku bunga bahkan menerapkan kebijakan yang tidak biasa (unconventional) seperti program pembelian aset (quatitative easing/QE).

Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang paling agresif, di bawah pimpinan Jerome Powell suku bunga dibabat habis hingga menjadi 0-0,25%, kemudian mengaktifkan kembali program QE dengan nilai tanpa batas. Berapapun akan digelontorkan agar likuiditas di perekonomian AS tidak mengetat akibat pandemi Covid-19 yang membuat roda perekonomian melambat bahkan nyaris terhenti.

Di tahun 2008 ketika terjadi krisis finansial global, The Fed dan bank sentral lainnya di Eropa menerapkan kebijakan yang sama, suku bunga rendah serta QE, dampaknya harga emas terus bergerak naik hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada tahun 2011.

Itu baru The Fed, bank sentral lainnya juga menerapkan kebijakan yang sama, bank sentral Australia misalnya, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah menerapkan program QE akibat pandemi Covid-19.

Saat ini, tidak hanya bank sentral yang mengambil kebijakan agresif. Pemerintah di berbagai negara juga menggelontorkan stimulus fiskal guna menanggulangi Covid-19. Pemerintah AS sudah menggelontorkan stimulus senilai US$ 2 triliun, terbesar sepanjang sejarah. Kebijakan tersebut membuat perekonomian global banjir likuiditas, lagi-lagi kondisi yang menguntungkan bagi emas.

Kebijakan moneter dan fiskal tersebut membuat Ole Hansen, Kepala Ahli Strategi Komoditas di Saxo Bank, memprediksi dalam jangka panjang emas akan di atas US$ 4.000/troy ons. 

TIM RISET CNBC INDONESIA
(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading