Sejarah! Inggris Rilis Obligasi Yield Negatif Rp 69 T

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
21 May 2020 06:55
Boris Johnson, leader of the Britain's Conservative Party, leaves a private reception in central London, Britain July 23, 2019. REUTERS/Toby Melville

Jakarta, CNBC Indonesia - Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pemerintah Inggris akhirnya menerbitkan surat utang negara atau UK Gilt dengan memberikan tingkat suku bunga (yield) yang negatif seiring dengan meningkatnya kekhawatiran akan resesi global akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Selain itu, obligasi negara dengan yield negatif itu juga diterbitkan Inggris dengan ekspektasi bank sentral akan membeli surat utang tersebut mengingat bank sentral adalah salah satu tipe pembeli obligasi yield negatif demi 
menambah cadangan devisa (cadev).

Berdasarkan data lelang yang dikeluarkan Debt Management Office (DMO) atau Kantor Management Utang, dikutip CNBC International, Kamis (21/5/2020), Inggris menjual UK Gilt tenor 3 tahun senilai 3,8 miliar poundsterling atau setara dengan US$ 4,66 miliar (Rp 69 triliun, asumsi kurs Rp 14.900/US$) dengan yield negatif 0,003%.

Yield negatif ini berarti pemerintah Inggris secara efektif justru dibayar untuk menerbitkan surat utang negara ini. Sama halnya di bank sentral yang menerapkan suku bunga negatif, artinya bank sentral akan mengenakan biaya kepada bank apabila suatu bank tertentu menempatkan uang dalam deposito bank sentral.


Dengan kata lain, sebuah bank justru harus membayar (bukan menerima) bunga ke bank sentral jika mereka menempatkan kelebihan dananya pada deposito di bank sentral. Biasanya tujuan kebijakan bunga negatif ini agar mendorong nasabah tidak hanya menempatkan dana di deposito, tapi aktif juga menginvestasikan dana ke sektor lain yang lebih berisiko.

Untuk obligasi bunga negatif ini, investor akan mendapatkan kembali dana mereka yang lebih rendah dari apa yang bayarkan di awal jika mereka memegang obligasi tersebut hingga jatuh tempo.

Dengan penerbitan obligasi yield negatif ini membuat Inggris bergabung dengan Jerman, Jepang dan beberapa negara Eropa lainnya dalam menjual utang pemerintah dengan yield negatif.

Sebelumnya Bank of England (BOE) memangkas suku bunga utamanya ke rekor terendah 0,1% pada Maret dan memulai tambahan pembelian obligasi senilai 200 miliar poundsterling (US$ 245,49 miliar), sebagian besar berbentuk UK Gilts, untuk program pelonggaran kuantitatif.

Agustus tahun lalu, Jerman juga merilis obligasi yield negatif dengan tenor 30 tahun. Dengan diterbitkan dengan yield negatif, tepatnya pada angka -0,11%, artinya investor obligasi Jerman senilai 869 juta euro tersebut rela tidak diberi kupon rutin oleh si penerbit hingga jatuh tempo bahkan membelinya di harga premium dari nilai nominalnya.

Dengan demikian, masih dibelinya obligasi tanpa kupon dan dibeli di harga tinggi itu menandakan investor masih memprediksi kondisi ekonomi akan lebih buruk dan lebih terkontraksi sehingga mengangkat harga obligasi sekaligus menekan yield-nya, dan berarti si pemilik efek utang itu dapat menjual portofolionya itu dengan harga yang lebih tinggi lagi di kemudian hari.

Dalam riset PT Danareksa Investment Management, sempat dijelaskan bahwa memang ada kelompok jenis investor yang masih tetap mengincar investasi obligasi, walaupun dengan yield negatif.

Mereka adalah bank sentral demi kebutuhan cadev, dan asuransi serta pengelola dana pensiun yang butuh investasi obligasi untuk matching pemenuhan kewajiban pembayaran. Pihak perbankan juga mau tidak mau wajib pula membeli obligasi pemerintah sebagai alat pemenuhan kewajiban likuiditas (liquidity requirements).

Kelompok investor kedua adalah para investor asing yang masih melihat peluang profit dari membeli obligasi walau dengan yield negatif, dan kelompok investor ketiga adalah para investor yang mungkin sangat konservatif.

[Gambas:Video CNBC]





(tas/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading