Erick Minta BUMN Hemat, PLN Pangkas Capex Rp 39 T

Market - Monica Wareza & Anisatul Umah, CNBC Indonesia
20 May 2020 13:44
Sutet 500 kV Balaraja-Kembangan ,Proyek Prioritas untuk Keandalan Listrik Jawa – Bali. (Dok.PLN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyebutkan sebagian besar perusahaan BUMN kinerjanya terganggu karena dampak pandemi Covid-19 sehingga kementerian meminta perusahaan untuk memotong pengeluarannya di tahun ini. Salah satunya PT PLN (Persero).

Bahkan BUMN kelistrikan itu diketahui sudah memotong biaya belanja modal atau capital expenditure (capex) hingga Rp 39 triliun di tahun ini.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan kementerian telah meminta perusahaan-perusahaan untuk memotong belanja modal (capex) dan biaya operasional (operational expenditure/opex). Selain itu, kementerian juga berupaya untuk melakukan restrukturisasi utang-utang perusahaan.

"Kita kurangi capex dan opex, seperti contoh kemarin PLN kita cut [pangkas] Rp 39 triliun dan hal lainnya di perusahaan BUMN," kata Erick, dalam paparan virtual, Rabu (20/5/2020).


Sebagai informasi, total kebutuhan capex PLN tahun ini tak berbeda jauh dengan 2019 yakni sebesar Rp 90 triliun yang akan dibiayai termasuk lewat penerbitan obligasi global. 

Pada 20 April lalu, PLN juga baru mengumumkan penawaran umum berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan III. Saat ini PUB III sudah sampai pada Tahap VII, dengan pencatatan efek bersifat utang itu sebesar Rp 1,74 triliun yang dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dihubungi terpisah, dua perwakilan PLN yakni Executive Vice President Corporate Communcation and CSR PLN I Made Suprateka dan Sulistyo Biantoro, EVP Corporate Finance PLN, belum merespons soal informasi pemangkasan capex ini.

"Nggak [lebih besar], kurang lebih sama [Rp 90 triliun]. Mungkin malah lebih sedikit dari tahun ini. 2020 rencananya kita coba paling nggak sama, maksimal sama dengan tahun ini tapi enggak lebih tinggi," kata Sulistyo Biantoro dilansir Detik, November 2019.

Lebih lanjut, Erick mengatakan kementerian juga berupaya untuk mendorong perusahaan pelat merah untuk melakukan restrukturisasi utang-utang dengan memperpanjang tenor atau menurunkan tingkat bunga agar ke depannya tak memberatkan perusahaan.

Sebagai contoh, PT Indonesia Asahan Aluminium/Inalum (Persero) atau MIND ID baru saja menerbitkan surat utang global dengan denominasi dolar Amerika Serikat.

Erick mengatakan dana penerbitan obligasi global ini sebagian besar digunakan untuk merestrukturisasi global bond yang telah diterbitkan sebelumnya, sehingga perusahaan mendapatkan tenor yang lebih panjang dan bunga yang lebih murah.

"Nah hal-hal ini kita lakukan terus, selain kita memperpanjang tapi juga cari bunga murah dan ini kesempatan. Kita sudah lakukan hampir US$ 3,6 miliar," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]




(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading