New Normal Belum Bisa Angkat Harga Batu Bara ke US$ 60/Ton

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
18 May 2020 11:02
Coal barges are pictured as they queue to be pull along Mahakam river in Samarinda, East Kalimantan province, Indonesia, August 31, 2019. Picture taken August 31, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara termal Australia untuk kontrak yang ramai diperdagangkan ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan lalu setelah mencatatkan reli sejak awal Mei. Sentimen the new normal masih belum mampu membuat harga batu bara kembali ke level di awal tahun. 

Jumat (15/5/2020) harga batu bara anjlok 2,36% ke US$ 53,8/ton. Sejak awal Maret memang harga batu bara terus mencatatkan reli. Pada periode 1-14 Mei 2020, harga batu bara termal Negeri Kangguru melesat 5,15%. 




Karena sudah naik sangat signifikan wajar saja kalau harga mengalami koreksi karena sudah menarik untuk mencairkan cuannya. Harga batu bara cukup terdongkrak dengan penguatan harga minyak seiring dengan mulai banyaknya negara yang berencana melonggarkan berbagai macam pembatasannya. 

Seiring dengan penurunan kasus baru infeksi Covid-19 banyak negara sudah bersiap untuk kembali hidup normal walau dengan beberapa penyesuaian (new normal). Pelonggaran yang diambil mengisyaratkan bahwa roda perekonimian yang melambat bisa dipacu lebih kencang.

Untuk memacunya membutuhkan bahan bakar, sehingga ada prospek permintaan yang cukup menjanjikan terutama untuk sektor energi primer seperti minyak dan batu bara. Walau sentimen ini cukup membuat harga batu bara reli, tetapi harga batu bara gagal menembus level psikologis US$ 60/ton.

[Gambas:Video CNBC]




Pandemi Covid-19 tidak hanya membuat permintaan listrik terutama untuk industri dan komersial menurun. Namun juga dikatakan menjadi ancaman lain bagi komoditas unggulan Indonesia dan Australia ini. 

Dengan semakin murahnya harga bahan bakar atau energi terbarukan, maka pangsa pasar batu bara berpotensi semakin mengkerut. Upaya untuk memerangi perubahan iklim (global warming) menjadi latar belakang utama beralihnya negara-negara terutama Eropa ke sumber energi yang ramah lingkungan. 

Tak hanya di Eropa, Korea Selatan yang notabene juga merupakan salah satu negara konsumen batu bara terbesar di Asia juga terus berupaya untuk beralih ke sumber energi yang ramah terhadap lingkungan. 

Ancaman lain juga datang dari rendahnya harga gas alam cair (LNG) yang merupakan substitusi batu bara. Anjloknya harga LNG dan juga ketersediaannya yang melimpah berpotensi membuat banyak negara seperti Jepang dan Korea Selatan beralih ke LNG. 

Selain itu, impor China yang sudah terlampau tinggi serta stok batu bara di berbagai pembangkit lisrik di India juga menjadi faktor yang dikhawatirkan akan mengurangi impor batu bara dari negara-negara tersebut. Maklum China dan India saat ini memimpin sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia. 




TIM RISET CNBC INDONESIA
(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading