Harga Obligasi RI Melesat, Investor Buru Seri Tenor Pendek

Market - Haryanto, CNBC Indonesia
12 May 2020 17:30
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah Indonesia pada hari ini, Selasa (12/5/2020) menguat karena minat investor terhadap obligasi bertenor pendek cukup tinggi yang tercermin dari lelang rutin kali ini.

Penguatan
pasar obligasi juga terjadi setelah Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa ada upaya BI untuk membeli sejumlah SBN di pasar perdana.

"Jumlah pembelian SBN di pasar perdana oleh BI untuk pembiayaan APBN 'above the line' diperkirakan maksimal sekitar Rp 125 triliun," kata Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI, Rabu pekan lalu (6/5/2020).

Dari rencana pembiayaan APBN Rp 1.439,8 triliun tersebut, rencana penerbitan SBN pada kuartal II-IV 2020 diperkirakan sebesar Rp Rp 856,8 triliun.

Data Refinitiv menunjukkan
penguatan harga surat utang negara (SUN) itu tercermin dari dua seri acuan (benchmark). Kedua seri tersebut adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun, sementara FR0083 bertenor 20 tahun dan FR0080 bertenor 15 tahun mengalami pelemahan.

Seri acuan yang paling
menguat hari ini adalah FR0081 yang bertenor 5 tahun dengan penurunan yield 2,5 basis poin (bps) menjadi 7,528%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya.  Yield menjadi acuan keuntungan investor di pasar surat utang dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

 


Yield Obligasi Negara Acuan 12 Mei'20

Seri

Jatuh tempo

Yield 11 Mei'20 (%)

Yield 12 Mei'20 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar PHEI 12 Mei'20 (%)

FR0081

5 tahun

7.553

7.528

-2.50

7.3338

FR0082

10 tahun

8.091

8.077

-1.40

7.9682

FR0080

15 tahun

8.216

8.238

2.20

8.1988

FR0083

20 tahun

8.211

8.228

1.70

8.2735

Sumber: Refinitiv

Apresiasi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) juga menguat. Indeks tersebut naik 0,87 poin(0,33%) menjadi 265,19 dari posisi kemarin 264,32.

Penguatan
di pasar surat utang hari ini tidak senada dengan pelemahan rupiah di pasar valas. Pada Selasa (12/5/2020), rupiah melemah 0,2% dari penutupan sebelumnya. Kini US$ 1 dibanderol Rp 14.880/US$ di pasar spot.

Selain itu, pada Selasa ini, pemerintah melakukan lelang tujuh seri Surat Utang Negara (SUN) guna memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2020.

Target indikatif pada lelang hari ini sebesar Rp 20 triliun dengan target maksimal Rp 40 triliun, permintaan yang masuk senilai Rp 73,75 triliun, dan pemerintah memenangkan sebesar Rp 20 triliun dari tujuh seri tersebut, mengacu data DJPPR Kementerian Keuangan.

Lelang kali ini p
emerintah tidak membuka opsi lelang tambahan atau greenshoe option seperti di lelang sebelumnya. Artinya minat investor sudah sesuai harapan.

Mengacu dari hasil lelang yang masuk, investor cukup optimistis terhadap aset pendapatan tetap (fixed income) ini. Hal tersebut terlihat dari pencapaian permintaan yang melewati target maksimal yang diproyeksikan pemerintah.

Artinya minat investor terhadap obligasi pemerintah sangat baik, dengan kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 3,7 kali. Sementara pada lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Selasa lalu (5/5/2020) terjadi oversubscribed sebanyak 2,3 kali, yang tercermin dari permintaan yang masuk senilai Rp 18,11 triliun dengan target indikatif Rp 8 triliun.

 

Hasil Lelang Surat Utang Negara (SUN)

12-May-20

Seri

 

 

 

 

 

SPN12200814

SPN12210429

FR0081

FR0082

FR0080

FR0083

FR0076

Jatuh tempo

14-Aug-20

29-Apr-21

15-Jun-25

15-Sep-30

15-Jun-35

15 April 2040

15 May 2048

Yield rerata tertimbang

3.489%

3.867%

7.483%

8.074%

8.285%

8.317%

8.378%

Penawaran masuk

0,920

0,150

29,8003

30,413

5,0252

4,0275

3,4095

Sumber : djppr.kemenkeu.go.id

 

Sementara itu, investor juga cenderung memburu obligasi jangka pendek yang bertenor 5 dan 10 tahun. Hal ini juga terlihat dari penawaran yang masuk dari seri FR0081 dan FR0082 masing-masing mencapai Rp 29,8 triliun dan Rp 30,41 triliun.

Obligasi RI Jadi Yang Terbaik Ketiga

Penguatan harga SUN tidak senada dengan pelemahan di pasar surat utang pemerintah negara maju dan berkembang lainnya, meski bervariasi. Di antara pasar obligasi negara yang dikompilasi Tim Riset CNBC Indonesia, SBN tenor 10 tahun menjadi yang terbaik ketiga setelah Rusia dan Jepang.

Dari pasar surat utang negara
maju dan berkembang terpantau bervariasi, yang mengalami variatif tingkat yield. Sementara surat utang negara yang paling melemah yaitu obligasi Brasil yang mengalami kenaikan tingkat yield  10 basis poin (bps).


Hal tersebut mencerminkan investor global sudah mulai masuk ke obligasi pemerintah di tengah
upaya pemerintah dan BI untuk menjaga stabilitas ekonomi Ibu Pertiwi.

Di sisi lain, penurunan nilai
CDS (credit default swap) selama sepekan kemarin juga menunjukkan bahwa investor mulai tumbuh optimis atas keadaan ekonomi Indonesia saat ini. Nilai CDS Indonesia 5 tahun turun (-2,79%) di 206.9396 pada catatan terakhir 9 Mei 2020.

CDS adalah instrumen keuangan berupa efek turunan (derivatif) atau kontrak yang menjadi jaminan bagi pemilik efek utang (fixed income) tertentu terhadap risiko kredit instrumen tertentu, dalam hal ini obligasi pemerintah Indonesia yang berdenominasi dolar AS.

Semakin tinggi nilai CDS, maka dapat mencerminkan risiko gagal bayar (default) sebuah instrumen sedang tinggi, sehingga untuk membeli 'asuransi' gagal bayar itu menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan ketika risikonya rendah. 

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 11 Mei'20 (%)

Yield 12 Mei'20 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil (BB-)

7.66

7.76

10.00

China (A+)

2.661

2.658

-0.30

Jerman (AAA)

-0.519

-0.501

1.80

Prancis (AA)

-0.02

-0.014

0.60

Inggris Raya (AA)

0.259

0.263

0.40

India (BBB-)

6.168

6.165

-0.30

Jepang (A)

0.012

-0.003

-1.50

Malaysia (A-)

2.803

2.855

5.20

Filipina (BBB)

3.413

3.413

0.00

Rusia (BBB)

5.95

5.91

-4.00

Singapura (AAA)

0.878

0.872

-0.60

Thailand (BBB+)

1.09

1.12

3.00

Amerika Serikat (AAA)

0.689

0.699

1.00

Afrika Selatan (BB+)

9.335

9.42

8.50

Sumber: Refinitiv

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

 




(har/har)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading