Oversupply & Second Wave Outbreak, Harga Minyak Turun Lagi

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
11 May 2020 10:28
FILE PHOTO: A maze of crude oil pipes and valves is pictured during a tour by the Department of Energy at the Strategic Petroleum Reserve in Freeport, Texas, U.S. June 9, 2016.  REUTERS/Richard Carson/File Photo
Jakarta, CNBC Indonesia - Reli harga minyak mentah yang terjadi sejak akhir April harus terhenti sejenak di awal pekan ini. Walau harga emas cenderung mengalami tren kenaikan, tetapi isu banjir pasokan (oversupply) di pasar serta ketidakpastian akan kapan berakhirnya pandemi virus corona (Covid-19) masih jadi faktor utama yang berpotensi membuat harga si emas hitam kembali anjlok.

Senin (11/5/2020) pada 09.35 WIB, harga minyak mentah untuk kontrak yang ramai diperdagangkan mengalami penurunan. Harga minyak mentah acuan global yakni Brent turun 1,58% dibanding posisi penutupan pekan lalu ke US$ 30,48/barel.

Di waktu yang sama, harga minyak mentah untuk kontrak acuan West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan sebesar 2,06%. Harga minyak WTI dibanderol US$ 24,23/barel.




Kenaikan harga minyak yang terjadi pada sepekan terakhir dipicu oleh optimisme pelonggaran lockdown di berbagai negara yang berpotensi membuat ekonomi lebih bergairah dan permintaan terhadap minyak membaik. Namun analis melihat reli tersebut masih terlalu dini mengingat pasar masih kebanjiran pasokan.



"Harga kontrak WTI untuk bulan depan berpotensi masih bergejolak sampai masalah penyimpanan (storage) bisa diatasi dan para trader percaya diri jika kontrak berakhir mereka dapat menyimpan minyak dengan harga yang masuk akal" kata Nicholas Cawley, market economist di Dailyfx.com, dalam sebuah catatan yang dirilis Rabu pekan lalu mengutip CNBC International.

"Dengan aktivitas ekonomi yang kemungkinan besar tak akan naik dalam waktu dekat, permintaan minyak masih akan rendah dan kelebihan pasokan yang membuat keseimbangan terganggu akan membuat harga minyak WTI anjlok lagi" tambahnya.

Sebenarnya memasuki bulan Mei, produksi minyak di berbagai negara sudah mulai dipangkas. Di AS, sejak pertengahan April lalu produksi minyak telah turun 1 juta barel per hari (bpd) dari level tertinggi bulan sebelumnya 13,1 juta bpd.

Hal ini juga didukung dengan pemangkasan produksi minyak juga dilakukan oleh Arab, Rusia dan koleganya (OPEC+). Pemotongan produksi sebesar 9,7 juta bpd oleh OPEC+ dilakukan per 1 Mei 2020 jika mengacu pada kesepakatan. 

Walau produksi sudah dipangkas secara besar-besaran, analis menilai masih butuh pemangkasan produksi yang ekstra guna mengimbangi anjloknya permintaan. Rystad Energy memperkirakan, pada bulan Mei akan terjadi kelebihan pasokan minyak sebesar 13 juta bpd, sehingga dibutuhkan pemangkasan lebih besar.

"Pemotongan produksi telah meningkat ... tetapi masih belum cukup untuk memastikan kapasitas penyimpanan akan mencukupi sebelum terjadinya rebound," papar kepala pasar minyak Rystad, Bjornar Tonhaugen dalam sebuah catatan mengutip CNBC International.



Ketika permintaan anjlok sementara pasokan terus ada, maka kelebihan minyak haruslah disimpan dalam storage. Namun yang jadi masalah saat ini adalah kapasitas penyimpanan minyak bisa dibilang hampir penuh sehingga tak ada lagi tempat untuk menyimpan kelebihan tersebut.

Di fasilitas utama penyimpanan minyak AS saja, kapasitasnya sudah terisi 83%. Kondisi ini jelas menjadi faktor yang mengkhawatirkan. Belum lagi ditambah isu pelonggaran lockdown yang berpotensi memicu terjadinya gelombang kedua wabah yang sewaktu-waktu membuat harga si emas hitam anjlok.

Seiring dengan penurunan kasus yang terjadi di berbagai belahan dunia, banyak negara yang sudah mulai melonggarkan pembatasan sosialnya dan mulai memacu roda perekonomiannya berputar lebih cepat.

Namun mengingat belum ada vaksin yang bisa menjamin orang-orang 'kebal' dari virus corona membuat kekhawatiran akan gelombang kedua wabah muncul ketika ekonomi kembali dibuka.

Kekhawatiran tersebut pun mulai terlihat dari data perkembangan terbaru kasus Covid-19 yang mulai meningkat di beberapa negara. Di Amerika Serikat (AS) misalnya. Sejak awal Mei Paman Sam telah memperbolehkan beberapa wilayah mulai membuka kembali pertokoan seperti di Texas. 

Kenaikan kasus tak hanya terjadi di AS, di beberapa negara lain juga ada kekhawatiran serupa. Di Korea Selatan, kasus corona agak meningkat karena penyebaran di sebuah klub malam yang menyebabkan 34 orang terinfeksi. Ini terjadi usai pemerintah Negeri Ginseng melonggarkan aturan pembatasan sosialnya.

Sementara di Kota Wuhan (China) yang merupakan ground zero penyebaran virus corona, terdapat satu pasien lagi setelah belum lama ini ibu kota Provinsi Hubei itu dinyatakan bebas corona. Pasien baru itu tidak menunjukkan gejala (asimptomatik).

Reuters melaporkan, pihak berwenang China juga sudah mewanti-wanti akan kemungkinan terjadinya second wave outbreak. Kali ini yang disorot adalah salah satu kota di Provinsi Jilin Timur Laut China yang direklasifikasi menjadi zona merah alias berisiko tinggi.

Selagi vaksin dan pengobatan yang efektif belum ditemukan, maka ancaman untuk terjadinya gelombang kedua wabah memang masih ada. Jika lengah dalam melakukan pelonggaran pembatasan sosial, musuh tak kasat mata bisa sewaktu-waktu kembali menyerang. 

Jika menilik kembali faktor fundamentalnya, reli harga minyak yang terjadi beberapa waktu terakhir memang tampak seperti euforia. Oleh karena itu dengan berbagai risiko yang masih ada harga minyak rawan terkoreksi kembali.



[Gambas:Video CNBC]





TIM RISET CNBC INDONESIA
Artikel Selanjutnya

Produksi Dipangkas, Harga Minyak Naik tapi Tak Banyak


(twg/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading