Sudah Melesat Signifikan, Harga Minyak Hari Ini Selow Dulu

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
06 May 2020 11:03
The sun sets behind an idle pump jack near Karnes City, Texas, Wednesday, April 8, 2020. Demand for oil continues to fall due to the new coronavirus outbreak. (AP Photo/Eric Gay)
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah kontrak berjangka (futures) masih mengalami kenaikan walau tak setinggi pada periode sebelum-sebelumnya. Kenaikan harga minyak dipicu oleh mulai dipangkasnya produksi dan bergeliatnya aktivitas ekonomi seiring dengan pelonggaran lockdown diberlakukan di beberapa negara. 

Rabu (6/5/2020) harga minyak mentah kontrak pengiriman Juni 2020 masih kuat untuk menguat. Pada 09.55 WIB, harga minyak kontrak berjangka Brent naik 0,36% ke US$ 31,09/barel dan minyak acuan Amerika Serikat (AS) yakni West Texas Intermediate (WTI) naik 0,98% ke US$ 24,8/barel.



Pada awal pekan, harga minyak WTI naik 3% dan kemarin harganya naik lagi sampai 20% lebih dalam sehari. Penguatan harga terjadi seiring dengan pelonggaran lockdown yang dilakukan di beberapa negara. Pelonggaran ini memunculkan harapan bahwa roda perekonomian akan berputar sedikit lebih kencang dari saat lockdown dan permintaan bahan bakar mulai berangsur naik.



Italia dan Amerika Serikat (AS) merupakan contoh negara yang untuk sementara melonggarkan lockdown sejak hari Senin kemarin (4/5/2020). Italia, sebagai salah satu negara yang paling terpukul di dunia akibat pandemi Covid-19, sudah memperbolehkan sekitar 4,5 juta orang untuk kembali bekerja setelah hampir dua bulan berada di rumah. Aktivitas konstruksi dapat dilanjutkan dan kerabat dapat mulai berkumpul kembali.

Di AS, dengan total kasus infeksi dan kematian tertinggi di dunia, masing-masing hampir 1,2 juta dan 68.000, untuk beberapa negara bagian dan wilayah seperti Ohio mulai melonggarkan pembatasan terutama untuk aktivitas bisnis.

Di New York, negara bagian AS yang paling terpukul, Gubernur Andrew Cuomo menjabarkan pembukaan kembali bisnis secara bertahap, dimulai dengan industri seperti konstruksi, dan wilayah yang paling tidak terkena dampak.

Selain Italia dan AS ada juga Spanyol, Portugal, Belgia, Finlandia, Nigeria, India, Malaysia, Thailand, Israel dan Lebanon yang juga menjadi negara-negara yang membuka kembali berbagai pabrik, lokasi konstruksi, taman, salon penata rambut, dan perpustakaan.

Pelonggaran lockdown ini dipicu oleh peningkatan harian dalam kasus pandemi Covid-19 di seluruh dunia yang lebih rendah dari pertengahan Maret. Peningkatan harian dalam sepekan terakhir mencapai laju 2% -3%, turun dari sekitar 13% pada pertengahan Maret.


"Satu hal yang jelas, penurunan permintaan minyak sudah dilalui, dan ini bermanifestasi dalam harga minyak yang sedang naik," kata Per Magnus Nysveen, kepala analisis Rystad Energy. "Alasan utama di balik penguatan harga adalah data lalu lintas regional, yang menunjukkan permintaan terendah sudah terlewati," tambahnya.

Kenaikan harga minyak juga turut disorot Presiden AS Donald Trump. Melalui akun media sosial twitternya, Trump menulis "Harga minyak bergerak naik dengan baik ketika permintaan dimulai lagi!" pada hari Selasa pagi (5/5/2020), melansir CNBC International.

Penguatan harga minyak juga dipicu oleh mulai dipangkasnya produksi minyak di beberapa negara. Pemotongan produksi paling bersejarah dari para kartel minyak yang terdiri dari Arab, Rusia dan sekutunya (OPEC+) sebanyak 9,7 juta barel per hari (bpd) mulai berlaku pada 1 Mei. Norwegia dan Kanada juga telah membatasi produksi.

Di AS, data dari Administrasi Informasi Energi (EIA) menunjukkan bahwa produksi mingguan rata-rata 12,1 juta bpd untuk minggu yang berakhir 24 April, sekitar 1 juta bpd di bawah level tertinggi sepanjang masa sejak Maret. Exxon, Chevron dan ConocoPhillips adalah beberapa di antara perusahaan yang telah memangkas produksi dalam menghadapi harga yang tertekan.


TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]







(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading