Sri Mulyani: Corona 2x Lipat Lebih Kacau dari Krisis 2008!

Market - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
11 May 2020 09:04
Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). (Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) tidak main-main. Di sektor keuangan, wabah ini lebih dahsyat ketimbang krisis keuangan global 2008-2009.

Dalam jumpa pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) periode kuartal I-2020 hari ini, Senin (11/5/2020), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan sepanjang Januari-Maret 2020 terjadi arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia yang mencapai Rp 145,28 triliun.

Sebagai gambaran, arus modal keluar (capital outflows) kala krisis keuangan global 2008-2009 adalah Rp 67,9 triliun dan kala taper tantrum 2013 yang sebesar Rp 36 triliun.

"Periode Januari-Maret lalu sudah lebih dari dua kali lipat dibandingkan yang terjadi saat guncangan krisis keuangan global," ujar Sri Mulyani.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). (Youtube Kemenkeu RI)Foto: Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). (Youtube Kemenkeu RI)
Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). (Youtube Kemenkeu RI)



Sri Mulyani, yang juga Ketua KSSK, mengatakan bahwa tekanan paling berat terjadi pada Maret. Saat itu, indeks VIX yang menggambarkan volatilitas di pasar keuangan mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan indeks VIX menunjukkan terjadi kepanikan di pasar sehingga investor memilih aset-aset yang dianggap aman (safe haven assets).

"Hard currency dalam bentuk dolar. Cash," tegas Sri Mulyani mencontohkan aset yang paling diburu oleh pelaku pasar.

Kepanikan investor terjadi karena pandemi virus corona telah membuat kelumpuhan ekonomi di dua sisi, permintaan dan pasokan. Ini disebabkan oleh kebijakan pembatasan sosial (social distancing) yang membuat aktivitas masyarakat mengalami penurunan drastis, bahkan tidak bisa beraktivitas sama sekali.

"Terjadi 'kematian' dari beberapa aktivitas ekonomi. Ini terjadi di dua sisi sekaligus yaitu permintaan apakah itu konsumsi, investasi, ekspor-impor, serta gangguan supply yaitu produksi apakah itu sektor perdagangan, manufaktur, logistik, dan sektor-sektor lain. Dengan gangguan yang sangat serius, maka akan menyebabkan gangguan ekonomi dan bisa menyebabkan gangguan stabilitas sistem keuangan," jelas Sri Mulyani.




[Gambas:Video CNBC]




(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading