Waspada! Risiko Gagal Bayar Utang Menghantui Perusahaan RI

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
05 May 2020 11:15
Business concept. Business people discussing the charts and graphs showing the results of their successful teamwork. Selective focus.
Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak pandemi Covid-19 menyebabkan meningkatnya risiko gagal bayar (default) atas pembayaran surat utang jangka menengah (medium term note/MTN) yang jatuh tempo pada tahun ini.

Gagal bayar PT Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas) atas Medium Term Note (MTN) I Perum Perumnas Tahun 2017 Seri A yang seharusnya jatuh tempo pada 28 April 2020 senilai Rp 200 miliar menjadi pelajaran yang harus diwaspadai oleh korporasi. Ditengarai, pandemi Covid-19 menyebabkan operasional bisnis dan kinerja penjualan perusahaan pada tahun 2020 melambat.

Bila mengacu data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, sepanjang Mei 2020 saja, terdapat 11 MTN yang akan jatuh tempo senilai Rp 1,38 triliun. Salah satu yang nilainya cukup besar adalah penerbitan MTN dari PT J Resources Nusantara Rp 500 miliar dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk.



Direktur Utama CSA Institute, Aria Samata Santoso, mengatakan pandemi corona telah menyebabkan perusahaan mengalami kesulitan likuiditas, terutama dari sisi arus kas yang negatif karena tidak ada lagi pendapatan. Karenanya, perusahaan yang akan sangat terbantu bila mendapatkan kemudahan restrukturisasi seperti penundaan atau cicilan pelunasan bunga maupun pokok.

"Dengan situasi yang berkepanjangan sangat mungkin meluas ke dampak sistemik industri keuangan sehingga menimbulkan distrust di berbagai bidang. Namun seharusnya para pelaku saling memahami dan meringankan beban bersama untuk solusi terbaik karena kondisi khusus ini," kata Aria, kepada CNBC Indonesia, Selasa (5/5/2020).

Berpendapat senada, risiko gagal bayar juga berlaku untuk obligasi korporasi, tidak hanya MTN saja. Semakin pandemi ini kian berlarut, maka risiko default semakin tinggi. Karena itu dia menilai kondisi kinerja keuangan pada kuartal kedua akan menjadi ujian berat bagi perusahan.

"Risiko itu semakin tinggi kalau efek Covid-19 masih belum selesai," tuturnya, saat dihubungi CNBC Indonesia.

Head of Research & Market Information Department Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Roby Rushandie, mengatakan, selain kian meningkatnya risiko default, korporasi yang menerbitkan MTN rata-rata peringkat ratingnya di bawah batas investment grade, sehingga sangat rentan terganggu dari sisi likuiditas.

"Potensi default tentu meningkat, apalagi kalau dilihat lihat korporasi penerbit MTN ini ratingnya berada di batas bawah investment grade atau seputar A- ke bawah, jadi rawan untuk kena dampak likuiditas akibat kondisi sekarang ini," tuturnya.

Restrukturisasi
Direktur Utama PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Salyadi Saputra mengakui ada risiko gagal bayar obligasi maupun MTN emiten akibat pandemi covid-19. Dalam situasi seperti sekarang ini, perusahaan masih memungkinkan untuk membayar bunga tetapi kesulitan untuk membayar pokok obligasi yang jatuh tempo.

Sehingga, untuk mengatasi kondisi ini maka diperlukan relaksasi dari sisi investor melalui restrukturisasi dalam bentuk penundaan pembayaran pokok, namun hal ini tentunya akan berdampak pada turunnya rating utang perusahaan yang akan dinyatakan default.

"Saya rasa dalam kondisi sekarang agak sulit [pemberian stimulus], kondisi sekarang rating tidak mudah dapat rating bagus, dari investor akan lebih hati-hati, selektif sekali melakukan investasi surat utang, apalagi MTN yang memang regualsinya tidak seketat obligasi. Yang penting jangan samai terjadi default besar besran baik MTN maypun obligasi," kata Salyadi.

[Gambas:Video CNBC]


Head of Research PT Samuel Sekuritas Suria Dharma mengatakan risiko gagal bayar juga berlaku untuk obligasi korporasi, tidak hanya MTN. Semakin pandemi ini kian berlarut, maka risiko default semakin tinggi. Karena itu dia menilai kondisi kinerja keuangan pada kuartal kedua akan menjadi ujian berat bagi perusahan.

"Risiko itu semakin tinggi kalau efek Covid-19 masih belum selesai," tutur Suria, saat dihubungi CNBC Indonesia
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading