Sempat Heboh Mau Akuisisi Link Net, Seriuskah Pak Hary Tanoe?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
05 May 2020 08:03
cover topik/MNC Caplok Link Net thumbnail/Aristya Rahadian Krisabella
Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana emiten penyedia layanan televisi satelit berlangganan yang dikendalikan taipan Harry Tanoesoedibjo, PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) mengakuisisi emiten layanan TV berbayar milik Grup Lippo, PT Link Net Tbk (LINK) belum juga disepakati. Padahal, sebelumnya MNC sempat mengumumkan rencana akuisisi pada Desember 2019 lalu.

Sekretaris Perusahaan First Media, Harianda Noerlan menyatakan, belum disepakatinya perpanjangan perjanjian definitif sebagai kelanjutan kesepakatan (term sheet) antara First Media dengan MNC Vision sehubungan dengan rencana akuisisi dan berakhirnya jangka waktu term sheet.

First Media, katanya, menindaklanjuti penandatanganan term sheet tersebut antara perseroan dengan MNC Vision Networks dan sepakat untuk segera membahas dan menandatangani perjanjian definitif.


"Sampai dengan batas berakhirnya jangka waktu term sheet yang telah disepakati antara para pihak, belum tercapainya kesepakatan lebih lanjut atas perjanjian definitif maupun penyesuaian jangka waktu term sheet," katanya, melaalui pengumuman di laman keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin ini (4/5/2020).

CNBC Indonesia mengonfirmasi terkait masih buntunya rencana akuisisi ini kepada Presiden Direktur & CEO PT Link Net Tbk, Marlo Budiman apakah karena pertimbangan ketidakcocokan harga atau situasi lain seperti penundaan rencana investasi oleh MNC Group karena pandemi Covid-19.

"Saya tidak ada komentar lebih lanjut," kata dia kepada CNBC Indonesia, Senin (4/5/2020).

Sebelumnya, dalam perjanjian akuisisi ini Desember tahun lalu dan disebutkan berlaku 6 bulan. Dalam keterangannya, Head of Investor Relations LINK Joel Ellis, mengatakan IPTV memang telah menandatangani persyaratan tidak mengikat bersama First Media dan Asia Link Dewa Pte mengenai rencana penjajakan akuisisi saham mayoritas Link Net.

Joel mengatakan, keberhasilan aksi korporasi ini akan tunduk pada hasil uji tuntas (due diligence), pemenuhan kondisi tertentu lainnya, pembiayaan dan penandatanganan perjanjian definitif yang akan disepakati bersama."Para pihak akan bertujuan untuk mencapai hasil dalam kurun waktu 6 bulan," kata Joel Ellis, Rabu (4/12/2019).

Rencana akuisisi ini juga dibenarkan Direktur Utama IPTV Ade Tjendra, dalam pengumuman di BEI, Senin (2/12/2019). "Perseroan sudah menekan term sheet untuk menjajaki akuisisi mayoritas saham Link dari First Media dan Asia Link," katanya.

Laporan keuangan LINK per September 2019 menunjukkan, pemegang saham LINK terbesar adalah Asia Link Dewa Pte LTd sebesar 35,72% (1,02 miliar saham) disusul oleh First Media sebesar 28,04% (789,97 juta saham). Kemudian, UBS AG LDN menggenggam kepemilikan 6,5% (185,34 juta saham) dan sisanya sebesar 29,74% (847,57 juta saham) dipegang publik.

[Gambas:Video CNBC]


Jika mengacu pada porsi kepemilikan tersebut, IPTV mencaplok bagian saham milik KBLV dan Asia Link Dewa, maka jumlah saham LINK yang akan diambil alih IPTV mencapai 63,75% atau setara 1,82 miliar saham.

Kemudian, dengan asumsi harga saham rata-rata LINK adalah Rp 4.220/saham pada Desember 2019, maka jumlah dana investasi yang digelontorkan IPTV diperkirakan mencapai Rp 7,67 triliun. Sementara jika memakai harga rata-rata Senin ini (4/5/2020), saat harga saham LINK ambles ke Rp 2.675/saham, maka nilai akuisisi berpotensi Rp 4,87 triliun.
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading