Bukan Covid-19, Ini yang Membuat Emiten Farmasi Menjerit

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
22 April 2020 13:47
Industri Farmasi (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan farmasi dalam negeri mengakui mengalami kesusahan di tengah pandemi yang melanda seluruh negara di dunia saat ini. Hal ini terutama disebabkan karena gerak dolar yang makin kuat, berdampak pada beban operasional perusahaan yang masih harus mengandalkan impor bahan baku dalam jumlah besar.

PT Phapros Tbk (PEHA) menyebutkan ketergantungan bahan baku impor yang mencapai 95% dari seluruh kebutuhan perusahaan membuat perusahaan terpaksa pasrah di tahun ini. Pergerakan dolar yang terus menguat dibanding dengan tahun lalu sudah barang pasti akan menekan kondisi keuangan perusahaan.

"Tentunya perubahan kurs dolar ini berdampak pada kenaikan harga pokok produksi," kata Barokah Sri Utama, Direktur Utama Phapros dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI secara virtual, Selasa (21/4/2020).


Untuk tahun ini perusahaan telah mempersiapkan dua skenario kinerja dengan kondisi dolar di level Rp 16.500/US$ dan Rp 18.500/US$.

Dia memaparkan, tahun ini ditargetkan pendapatan bisa tumbuh menjadi Rp 1,5 triliun, tumbuh dari Rp 1,10 triliun di akhir tahun lalu. Sementara untuk laba bersih tahun ini ditargetkan akan tumbuh menjadi Rp 135 miliar.

Skenario terburuk yang disiapkan perusahaan dengan kondisi dolar terus meningkat membuat proyeksi laba bersih jauh lebih buruk dari Rp 135 miliar.


Sementara itu, induk usahanya yakni PT Kimia Farma Tbk (KAEF) yang tahun lalu mengalami kerugian mencapai Rp 12,72 miliar pada 2019, tahun ini memproyeksikan kenaikan pendapatan di tengah pandemi corona. Pendapatan diprediksi bisa mencapai Rp 11,7 triliun, naik dari Rp 9,40 triliun di pencapaian perusahaan tahun lalu.

Namun, tahun ini perusahaan memangkas belanja modal (capital expenditure/capex) hingga hampir seperempat dari realisasi perusahaan tahun lalu. Di tengah kondisi yang sulit ini perusahaan memotong anggaran capex dari sebelumnya Rp 1,98 triliun menjadi senilai Rp 1,44 triliun.

"Tahun ini perusahaan juga berencana untuk menurunkan jumlah pinjaman bunga secara bertahap. Targetnya akan diturunkan menjadi Rp 7,42 triliun dari posisi tahun lalu Rp 8,26 triliun," kata Verdi Budidarmo, Direktur Utama Kimia Farma di kesempatan yang sama.

Selain itu, perusahaan juga menargetkan tahun ini dapat melakukan pemotongan anggaran beban usaha senilai Rp 208 miliar tahun ini.

Di tengah kondisi yang kurang baik ini, Barokah mengajukan sejumlah insentif yang dapat diberikan pemerintah untuk sektor farmasi.

"Kami usulkan ada subsidi dolar, setara Rp 13 ribu/US$ karena sekarang sudah berat sekali. Dengan kalau nilainya [dolar] di atas Rp 13.000 ada subsidi atau klaim," kata dia.

[Gambas:Video CNBC]



Selain itu, perusahaan farmasi ini juga meminta keringanan kepada pemerintah dari segi bea masuk bahan baku mengingat tingginya kebutuhan bahan baku impor. Dia mengusulkan agar pemerintah tak mengenakan tarif impor untuk bahan baku.

Upaya ini dilakukan untuk dapat menjaga harga jual obat ke masyarakat. "Kami juga minta BUMN dihapuskan statusnya sebagai pemungut supaya tidak lebih banyak beban restitusi," terang dia.
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading