Efek Covid-19

Untung Ada Kebijakan Biodiesel, Jadi Tumpuan Emiten CPO

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
22 April 2020 11:52
Panen tandan buah segar kelapa sawit di kebun Cimulang, Candali, Bogor, Jawa Barat. Kamis (13/9). Kebun Kelapa Sawit di Kawasan ini memiliki luas 1013 hektare dari Puluhan Blok perkebunan. Setiap harinya dari pagi hingga siang para pekerja panen tandan dari satu blok perkebunan. Siang hari Puluhan ton kelapa sawit ini diangkut dipabrik dikawasan Cimulang. Menurut data Kementeria Pertanian, secara nasional terdapat 14,03 juta hektare lahan sawit di Indonesia, dengan luasan sawit rakyat 5,61 juta hektare. Minyak kelapa sawit (CPO) masih menjadi komoditas ekspor terbesar Indonesia dengan volume ekspor 2017 sebesar 33,52 juta ton.

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten di sektor perkebunan kelapa sawit meminta pemerintah tetap konsisten dengan kebijakan membolehkan operasional di sektor ini untuk memasok bahan pangan dan energi guna bertahan di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

Selain itu, emiten sawit juga bertumpu pada kebijakan pemerintah yakni implementasi biodiesel 30%. Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Santosa mengatakan, kedua insentif tersebut dapat memungkinkan produsen tetap bertahan di tengah penurunan permintaan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Hal ini karena sejumlah negara sudah menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown). Alhasil, kondisi ini menyebabkan harga CPO masih akan tertekan dan bisa menurun tajam.

"Untuk kondisi pandemi ini kami perlukan konsistensi pemerintah dalam komitmen B-30, karena kalau sampai goyah maka pertahanan kita akan ambruk," tutur Santosa, kepada CNBC Indonesia, Rabu (22/4/2020).


Tidak hanya itu, kata Santosa, saat ini di beberapa daerah masih ada yang melarang angkutan tandan buah segar (TBS), padahal seharusnya industri ini harus tetap bisa beroperasi karena termasuk industri strategis untuk menyuplai bahan baku pangan dan energi.

"Masih ada daerah yang malah mengeluarkan Surat Edaran melarang angkutan TBS/CPO lewat daerah tersebut. Tentu operasionalnya harus menggunakan standar protokol kesehatan GAPKI [Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia] supaya tetap sehat dan aman," kata Santosa.

Secara terpisah, Managing Director Sinar Mas Gandi Sulistiyanto mengakui, virus corona benar-benar menghantam hampir semua lini bisnis Grup Sinarmas, tidak terkecuali di bisnis perkebunan melalui PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR).

Hanya saja, dampak pandemi bagi lini bisnis perkebunan tidak separah yang dirasakan seperti sektor properti dan lembaga keuangan karena masih mengandalkan ekspor dan negara-negara tujuan masih mengandalkan produk sawit Grup Sinarmas sebagai bahan pangan.

"Yang membuat kita stabil kebijakan biodiesel 30 persen, ini yang membuat sektor ini bertahan," kata Gandi, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Rabu (15/4/2020).


Melalui mandatori biodiesel 30%, diperkirakan akan menyerap produk CPO hingga 10 juta ton sawit untuk kebutuhan pangan di dalam negeri, sehingga dapat menyerap sawit yang sudah kelebihan suplai. Kebijakan ini juga dinilai akan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) dan menghemat devisa.

"Apa yang dilakukan pemerintah saat ini tinggal disempurnakan, diperbaiki, sesuai dengan keadaan dari waktu ke waktu. Sejauh ini oke, kami mengapresiasi kecepatan pemerintah mengantisipasi industri ini," ungkapnya.




[Gambas:Video CNBC]




(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading