Masih 'Disetir' Virus Corona, Bursa Asia Ditutup Variatif

Market - Haryanto, CNBC Indonesia
20 April 2020 16:57
bursa saham asia Foto: ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia ditutup bervariasi pada perdagangan Senin ini (20/4/2020) setelah sentimen positif bank sentral China (PBoC) yang memangkas suku bunga pinjaman satu tahun menjadi 3,85% dari 4,05% tidak mampu mengimbangi dampak pandemi virus corona (Covid-19).

Sementara itu, PBoC juga memangkas suku bunga acuan untuk pinjaman 5 tahun menjadi 4,65% dari 4,75%. Ini menandai pemangkasan kedua untuk suku bunga dasar pinjaman China untuk tahun 2020.

Data perdagangan mencatat, bursa saham di China daratan ditutup menguat, di mana indeks Shanghai Composite naik 0,5% menjadi 2.852,55, sedangkan Shenzhen naik lebih dari 1% pada 1.767,86. Sementara pasar saham di Hong Kong yakni indeks Hang Seng turun 0,21% ke 24.330,02 pada penutupan perdagangan.

Pasar saham Jepang berakhir di zona merah setelah data menunjukkan bahwa nilai ekspor bulan Maret Negeri Samurai merosot paling dalam sejak 4 tahun yang lalu. Ekspor Jepang turun hampir 12% di bulan Maret dari tahun sebelumnya, dengan pengiriman ke Amerika Serikat turun lebih dari 16%.

 


 

Indeks Nikkei 225 turun 228,14 poin atau 1,15% menjadi 19.669,12, sedangkan indeks Topix ambles 0,7% menjadi 1.432,41.

Saham-saham pendorong penurunan indeks Nikkei 225 di antaranya saham Chugai Pharmaceutical Co jatuh 3,9% jelang hasil laba yang akan dirilis Kamis, sementara saham Fanuc Corp turun 0,9% menjelang hasil rilis pendapatan pada Jumat nanti.

 

 

Dari kawasan Asia lainnya, bursa saham Korea Selatan, indeks Kospi di tutup anjlok 0,84% pada 1.898,36, sedangkan indeks Straits Times Singapura anjlok 0,64% pada 2.597,85.

Sementara pasar saham di Australia indeks acuan (benchmark) S&P/ASX 200 turun 134,5 poin atau 2,45% menjadi 5.353, terdorong oleh penurunan saham-saham sektor energi.

Saham Woodside Petroleum, Santos, Origin Energy dan Beach Energy kehilangan 4-5% karena harga minyak jatuh bebas, dengan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun di bawah US$ 15 per barel ke level terendah sejak 2001.

Victor Shum dari IHS Markit mengatakan kepada CNBC Internasional dalam program "Street Signs" pada Senin bahwa ada "banyak tekanan di pasar minyak mentah, terutama pada perdagangan fisik di mana industri ini, 'berebut' setiap hari untuk menampung banyaknya minyak yang mengalir ke pasar dunia yang sebenarnya tidak bisa menggunakannya."

"Kami skeptis terhadap pasar minyak meskipun anggota OPEC + telah sepakat untuk melakukan beberapa pemotongan [produksi], tetapi baru dimulai pada bulan Mei," kata Shum, Wakil Presiden konsultasi energi di IHS Markit.

 

 

Dari bursa saham Tanah Air, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun tidak mampu mempertahankan kinerja positif sesi I dan ditutup untuk koreksi 1,27% ke level 4.575,91, dengan catatan nilai transaksi sebesar Rp 5,31 triliun.

Pelemahan bursa saham Asia juga merespons pernyataan dari Gubernur New York Andrew Cuomo yang mengumumkan pada hari Minggu bahwa jumlah korban tewas di Amerika Serikat akibat virus corona naik menjadi lebih dari 40.000, yang tertinggi di dunia. Melansir dari RTTNews.

Fokus pasar masih seputar pandemi virus corona yang terus diawasi secara ketat. Saat ini lebih dari 2,4 juta orang terpapar secara global dengan korban jiwa mencapai 165.000 orang lebih, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

 



Artikel Selanjutnya

BI Pangkas Suku Bunga, IHSG Menguat 4 Hari Beruntun


(har/har)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading