Terkapar di Asia, Dolar AS Kembali Babak Belur di Eropa

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
07 April 2020 20:23
Buruknya kinerja dolar AS pada hari ini terjadi akibat munculnya tanda-tanda pelambatan penyebaran pandemi virus corona (COVID-19).
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) sedang tidak dalam kondisi bagus pada perdagangan Selasa (7/4/2020), loyo di pasar Asia dan babak belur di pasar Eropa.

Mayoritas mata uang utama Asia menguat melawan dolar AS hari ini, rupiah menjadi mata uang terbaik dengan penguatan 1,56%. Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia hingga pukul 15:20 WIB.




Kinerja dolar AS lebih buruk lagi berhadapan dengan mata uang Benua Biru. Pada pukul 19:17 WIB, the greenback melemah 0,84% melawan euro di US$ 1,0881, sementara melawan poundsterling merosot 1% ke US$ 1,2352.

Franc Swis dan krona Swedia juga berhasil menguat masing-masing 0,64% dan 1,25% ke 0,9722/US$ dan 9,9948/US$.

Buruknya kinerja dolar AS pada hari ini terjadi akibat munculnya tanda-tanda pelambatan penyebaran pandemi virus corona (COVID-19). Eropa, Italia dan Spanyol melaporkan penurunan jumlah korban meninggal per harinya, sedangkan Jerman melaporkan penurunan jumlah kasus baru secara signifikan.

Sementara dari AS, jumlah korban meninggal di New York per harinya juga mengalami penurunan.



Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan dalam kurun waktu 20 Januari-6 April rata-rata pertumbuhan jumlah kasus corona adalah 12.52% per hari. Sejak 24 Maret, pertumbuhan jumlah kasus baru sudah di bawah itu yakni 9,67%. Bahkan dalam delapan hari terakhir pertumbuhan kasus baru per harinya sudah satu digit.

Kabar tersebut membuat sentimen pelaku pasar membaik, dan kembali masuk ke aset-aset berisiko. Dolar AS yang sebelumnya menjadi mata uang paling diburu kini perlahan mulai dikurangi porsinya.

"Kita melihat penurunan volatilitas yang bagus di pasar valas dan saham. Kita tahu bank sentral sudah melakukan perkerjaan yang sangat bagus dalam mencegah ketatnya likuiditas dolar AS, dan itu berhasil," kata Kenneth Broux, ahli strategi mata uang di Societe Generale, sebagaimana dilansir CNBC International.

"Kita perlu beberapa waktu untuk menyelesaikan ini... saya pikir apa yang kita lihat saat ini adalah sedikit pembalikan, dari aksi jual yang berlebihan (di mata uang selain dolar AS)," tambahnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading