Duh! OPEC+ Tunda Pertemuan, Harga Minyak Anjlok 9,2%

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
06 April 2020 09:09
Harga minyak turun tajam setelah OPEC+ mengumumkan menunda pertemuan penting mereka.

Jakarta, CNBC IndonesiaHarga minyak turun tajam selama jam perdagangan overnight (overnight trading) pada hari Minggu (5/4/2020). Itu terjadi setelah negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan sekutu non-OPEC mengumumkan menunda pertemuan penting mereka.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) anjlok 9,2% menjadi US$ 25,72 per barel, sementara harga patokan internasional, minyak mentah Brent turun 8,7% menjadi US$ 31,15 per barel.

Padahal pada pekan lalu, harga minyak sempat mencatatkan rekor terbaik dalam seminggu setelah kelompok gabungan yang disebut OPEC Plus (OPEC+) itu dikabarkan akan mengadakan pertemuan.



OPEC Plus seharusnya mengadakan pertemuan pada Senin ini untuk membahas kesepakatan dalam hal pemangkasan produksi minyak. Pertemuan ini banyak diharapkan investor lantaran menandakan ada kemungkinan kelompok itu memiliki kemajuan dalam hal pengurangan produksi untuk menopang harga minyak dunia.

Pertemuan ini sendiri diumumkan setelah pertemuan OPEC Plus pada bulan Maret berakhir tanpa kesepakatan untuk melanjutkan pemangkasan produksi. Padahal harga minyak sedang tertekan akibat minimnya permintaan di tengah merebaknya wabah virus corona (COVID-19) dan juga kelebihan pasokan.

Kesepakatan untuk melanjutkan pemangkasan produksi gagal dibentuk setelah pemimpin anggota non-OPEC, Rusia, menolak untuk mengurangi produksi 1,5 juta barel per hari (bph) yang diusulkan Arab Saudi, sebagaimana dilaporkan CNBC International. Hal ini juga telah melahirkan perang harga antara dua negara produsen besar minyak dunia itu.

Menurut sumber yang akrab dengan masalah tersebut, pertemuan nampaknya akan diundur dan diadakan pada hari Kamis ini.

Menanggapi kabar penundaan ini, Ayham Kamel dari Eurasia Group mengatakan sulit menentukan apakah akan ada kesepakatan atau tidak antara anggota-anggota OPEC+ untuk memangkas produksi.

"Rincian kerangka kerja yang muncul rumit, bahkan jika gambaran keseluruhan tampak jelas di permukaan: Semua setuju atau tidak ada kesepakatan," kata Kamel.

Sebelumnya pada pekan lalu, menteri minyak negara Irak, produsen OPEC terbesar kedua di belakang Arab Saudi, telah menyampaikan dukungannya untuk memangkas produksi. Bahkan ia juga telah meminta negara-negara di luar OPEC+ untuk turut membantu pemangkasan.

Ia menyebutkan Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Norwegia secara khusus. Sebelumnya Arab Saudi dan Rusia juga telah meminta kerja sama AS, produsen minyak terbesar dunia saat ini, dalam menyeimbangkan pasokan minyak dunia.

Sebelumnya pada Kamis, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman. Ia juga memproyeksikan kedua pemimpin itu akan membuat kesepakatan untuk memotong produksi hingga 15 juta barel pada pertemuan yang batal diadakan.




Setelahnya pada Jumat, beberapa orang eksekutif minyak AS dikabarkan bertemu dengan Trump di Gedung Putih. Ada spekulasi yang menyebut Trump meminta mereka untuk bekerja sama dalam pemotongan. Namun demikian, tidak ada kesepakatan dari pertemuan tersebut.

"Ini adalah perusahaan besar dan mereka akan mengetahuinya," katanya pada briefing di Gedung Putih setelah bertemu dengan para CEO energi. "Ini pasar bebas, mereka akan mengetahuinya."

[Gambas:Video CNBC]




(res/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading