Standing Applause! IHSG Catat Penguatan Terbesar Sejak 1999

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
26 March 2020 16:40
Apresiasi bursa kebanggaan Indonesia ini terus berlanjut hingga 11% menyentuh level tertinggi intraday 4.370,66.
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat tajam pada perdagangan Kamis (26/3/2020), menyusul pergerakan bursa saham global. IHSG bahkan membukukan persentase kenaikan harian terbesar dalam 21 tahun terakhir atau sejak 1999.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) libur Hari Raya Nyepi Rabu kemarin, di saat yang sama bursa saham global melesat naik.

IHSG baru bisa menyusul penguatan tersebut pada hari ini, begitu perdagangan dibuka langsung melesat tinggi. Apresiasi bursa kebanggaan Indonesia ini terus berlanjut hingga 11% menyentuh level tertinggi intraday 4.370,66. Di akhir sesi I, penguatan IHSG sedikit terpangkas dan mengakhiri perdagangan
di level 4.316,423, menguat 9,62%.


Berdasarkan data RTI, nilai transaksi di sesi I sebesar 7,32 triliun, dengan investor asing melakukan aksi beli bersih Rp 404,4 miliar.

Memasuki perdagangan sesi II, IHSG mampu mempertahankan penguatan meski belum mampu memecahkan level tertinggi intraday hari ini. Di penutupan perdagangan, IHSG berakhir di level 4.388,904 atau melesat 10,19%.



Persentase kenaikan IHSG hari ini merupakan yang terbesar sejak 8 Juni 1999, kala itu IHSG melesat 12,18%. Sementara rekor persentase kenaikan terbesar IHSG tercatat pada 2 Februari 1998 ketika melesat 14,03%, berdasarkan data Refinitiv.

Berdasarkan data dari RTI, nilai transaksi sepanjang perdagangan hari ini sebesar Rp 12,51 triliun, dengan investor asing melakukan aksi beli bersih Rp 670,13 miliar di pasar reguler dan non-reguler.



Membaiknya sentimen pelaku pasar yang mengangkat kinerja bursa saham terjadi setelah setelah Pemerintah Amerika Serikat (AS) menggelontorkan stimulus jumbo.

Seperti diketahui sebelumnya, pada Selasa lalu Pemerintah dan Senat AS telah mencapai kata sepakat untuk mengucurkan stimulus senilai US$ 2 triliun, yang dikatakan terbesar sepanjang sejarah. Stimulus tersebut bahkan dua kali lipat lebih besar dari nilai perekonomian Indonesia.

Kesepakatan tersebut kini masih dalam tahap Rancangan Undang-Undang (RUU) dan harus di-voting di Kongres AS, sebelum ditandatangani Presiden AS, Donald Trump.

Dengan gelontoran stimulus tersebut, perekonomian Negeri Paman Sam diharapkan masih bisa berputar meski sedang mengalami pandemi virus corona (COVID-19), dan akan berakselerasi kencang begitu COVID-19 berhasil dihentikan.

Membaiknya sentimen pelaku pasar tercermin dari rally bursa global dalam dua hari beruntun. Indeks Dow Jones di bursa saham AS bahkan mencatat kenaikan 11% pada perdagangan Selasa, menjadi kenaikan harian terbesar dalam 87 tahun terakhir. Bursa saham Asia Rabu kemarin menguat tajam mengikuti rally Wall Street di hari Selasa tersebut. Indeks Nikkei Jepang memimpin penguatan bursa saham Asia setelah melesat lebih dari 8%. Disusul indeks Sensex India yang menguat nyaris 7%, kemudian Strait Times Singapura 6%.

Kospi Korea Selatan menguat nyaris 6%, sementara Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite China naik 3,8% dan 2,17%, begitu juga dengan bursa saham negara lainnya juga mencatat penguatan.

Meski demikian, pada hari ini bursa saham utama Asia mengalami koreksi. Indeks Nikkei merosot lebih dari 4,5%, Kospi Korea Selatan dan Strait Times Singapura melemah masing-masing sekitar 1%, kemudian Shanghai Composite dan Hang Seng Hong Kong melemah kurang dari 1%. Sementara bursa saham India, Thailand, Filipina, hingga Malaysia menguat pada hari ini, meski tidak mencapai 2 digit seperti IHSG.

Pada perdagangan Selasa lalu bursa Asia juga menghijau, hanya IHSG yang berakhir di zona merah. Maka wajar IHSG hari ini bangkit dan menyusul bursa saham global, apalagi Wall Street sebagai kiblat bursa saham dunia juga kembali menguat pada perdagangan Rabu. Tidak hanya itu, bursa saham Eropa juga kompak membukukan penguatan dua hari beruntun kemarin.



Mengiringi melesatnya IHSG, ada beberapa emiten yang kena auto reject atau mendekati tetapi tetap hepi, alias kena Auto Rejection Atas (ARA) akibat harga sahamnya yang melesat tajam.

Untuk emiten yang harga sahamnya direntang rentang harga Rp50 sampai dengan Rp200, batas ARA yakni lebih dari 35% (tiga puluh lima perseratus). Ada beberapa emiten yakni PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk. (TAMU) +34,78%, PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) +33,33%, dan PT Greenwood Sejahtera Tbk (GWSA) + 32,43%.

Kemudian untuk emiten yang harga sahamnya lebih dari Rp200 sampai dengan Rp5.000, batas ARA lebih dari 25%, yakni PT Diamond Citra Proper Tbk. +25%. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) +25%, PT Sentra Mitra Informatika Tbk. (LUCK) +25%, PT Indofarma Tbk (INAF) +25%, PT XL Axiata Tbk. (EXCL) +24,47%.

Yang terakhir untuk emiten dengan harga saham di atas Rp. 5.000 batas ARA lebih dari 20%, yakni PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) +19,38% dan PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk. (INTP) +19,81%.


[Gambas:Video CNBC]




TIM RISET CNBC INDONESIA
(pap/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading