Newsletter

Apakah Kita Sudah Bisa Berteman Lagi, Mister Market?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
20 March 2020 06:32
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan tanah air memasuki periode yang sangat sulit akibat merebaknya wabah corona (COVID-19) di dunia dan dalam negeri. Hingga kemarin, pasar keuangan RI masih kompak ditutup melemah.

Dari pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup anjlok signifikan hingga 5,2%. Bahkan 37 menit setelah pembukaan perdagangan, IHSG langsung melorot 5% dan membuat perdagangan disetop (trading halt). Dengan begitu, genap sudah IHSG membukukan pelemahan dalam empat hari perdagangan secara beruntun.

Per kemarin (19/3/2020), IHSG berada di level 4.105,42 dan menjadi level terendah sejak 29 Agustus 2020. Hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan, IHSG sudah nyungsep dan sentuh titik terendah dalam hampir 7 tahun terakhir.




Asing tak bosan-bosan keluar dari pasar saham RI. Pada perdagangan kemarin saja, asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 636,25 miliar. Jika dihitung dari awal tahun, total net sell yang dilakukan oleh asing di pasar saham RI sudah mencapai Rp 9,45 triliun.

IHSG saat ini dalam kondisi yang bisa dibilang cedera parah. Baru menginjak bulan ketiga tahun 2020, indeks bursa saham RI telah kehilangan nilai kapitalisasi pasarnya sebesar 34,83% (year to date/ytd).

Rontoknya pasar ekuitas Indonesia sah menempatkan IHSG menjadi runner up indeks pasar saham paling buruk di antara kawannya di Asia. Di posisi pertama dengan kinerja terburuk sejak awal tahun dicatatkan oleh bursa saham Filipina yang membukukan koreksi sejak awal tahun hingga 40% lebih (ytd).

Indonesia dan Filipina memang bukan negara dengan kasus infeksi COVID-19 di Asia Tenggara. Namun tingkat kematian akibat infeksi virus ganas tersebut di kedua negara ini merupakan yang paling tinggi di kawasan ASEAN sampai dengan Rabu (17/3/2020).




Bahkan ketika kemarin, Gubernur Bank Indonesia (BI) mengumumkan kembali pemangkasan suku bunga acuan, pasar benar-benar tak merespons stimulus yang diberikan. Sejak perdagangan dibuka kembali usai trading halt, IHSG masih enggan keluar dari level koreksi 5%. Kemarin, Perry Warjiyo selaku gubernur BI, kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps). Kini BI 7-Day Reverse Repo Rate berada di level 4,75%.

Tekanan yang hebat juga terjadi di pasar obligasi pemerintah RI. Hal ini tercermin dari kenaikan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Indonesia untuk tenor 5 tahun dan 10 tahun.

Kenaikan yield mengindikasikan bahwa instrumen bersifat utang tersebut sedang mengalami penurunan harga. Lebih lanjut, penurunan harga mengindikasikan adanya tekanan jual.

Pada penutupan perdagangan kemarin, obligasi pemerintah RI tenor 5 tahun dan 10 tahun masing-masing mencatatkan kenaikan yield sebesar 39,4 bps dan 33,1 bps menandai terjadinya koreksi pada harga.

Capital outflows pun tak terelakkan. Per 17 Maret 2020, asing telah kabur dari pasar saham sebesar Rp 9,28 triliun. Sementara dai pasar obligasi, asing telah keluar sebesar Rp 78,76 triliun.

Aliran dana asing yang keluar dalam jumlah besar ini turut membebani kinerja mata uang rupiah. Pada penutupan perdagangan di pasar spot kemarin, nilai tukar rupiah dibanderol sebesar Rp 15.900 untuk US$ 1.

Artinya rupiah terdepresiasi sebesar 4,61% di hadapan dolar greenback dalam sehari. Level penutupan rupiah kemarin juga menjadi level terlemah rupiah sepanjang sejarah untuk level penutupan.

Miris memang. Namun mau bagaimana lagi, ini adalah realita yang harus dihadapi. Sejak wabah COVID-19 dideklarasikan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pasar keuangan global juga mendapatkan tekanan yang hebat.


[Gambas:Video CNBC]




Wall Street (Cuma) Naik Tipis Setelah Tergerus Dalam
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading