IHSG Ambles Hampir 4%, Saham Grup Salim Merah Membara

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
28 February 2020 10:08
Hingga pukul 09.49 WIB Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas 3,7% ke level 5.329,10.
Jakarta, CNBC Indonesia - Koreksi dalam bursa saham domestik pada perdagangan pagi ini, Jumat (28/2/2020) membuat harga saham emiten-emiten milik Grup Salim terkoreksi dalam.

Data perdagangan BEIĀ mencatat, hingga pukul 09.49 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas 3,7% ke level 5.329,10. Sebanyak 307 saham mengalami koreksi, 34 saham naik dan 65 saham stagnan.

Saham-saham milik Grup Salim yang mengalami koreksi, antara lain PT Indomobil Sukses InternasionalĀ Tbk (IMAS) amblas 11,76%, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) drop 7,25%, saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) turun 4,55%, saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) turun 4,5% dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) turun 4,9%.



Hanya saham PT Indoritel Makmur International Tbk (DNET) yang tidak mengalami koreksi. Namun tidak juga bergerak naik alias stagnan.

Pagi tadi tiga indeks utama Wall Street kembali ditutup ambruk. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) anjlok 4,44%, S&P 500 turun 4,43% dan Nasdaq Composite melorot 4,61%.


Merespons koreksi dalam Wall Street tersebut, bursa saham utama kawasan Asia juga bergerak di zona merah. Indeks Nikkkei225 (Jepang) jeblok 3,25%, Hang Seng (Hong Kong) ambrol 2.18%, Shanghai Composite (China) jatuh dan Straits Times (Singapura) melemah 1,95%.

Pasar saham global diwarnai dengan kecemasan, apalagi setelah awal pekan ini dilaporkan bahwa lonjakan kasus baru yang signifikan terjadi di luar China. Negara yang melaporkan terjadi kenaikan jumlah kasus infeksi virus corona adalah Korea Selatan, Italia dan Iran.

Berdasarkan data teranyar yang dirilis Johns Hopkins University CSSE jumlah kasus yang dilaporkan di Korea Selatan sudah mencapai 1.766 dengan total kematian yang dilaporkan mencapai 13 orang.

Di Italia ada 655 kasus infeksi patogen berbahaya ini dan 17 orang dilaporkan meninggal dunia. Sementara di Iran kasus yang dilaporkan mencapai 245 kasus dengan kematian terbanyak di luar China mencapai 26 orang.


Pelaku pasar mengkhawatirkan wabah ini akan jadi pandemi yang memukul perekonomian global. Walau sampai saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menetapkan status pandemi pada kasus ini, tetapi organisasi tersebut telah mewanti-wanti akan potensi pandemi terjadi.

"Tidak ada negara yang boleh merasa aman, itu fatal sekali. Virus ini punya potensi menjadi pandemi," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Gebreyesus, seperti yang diwartakan Reuters.
Artikel Selanjutnya

Resmi Dicaplok Grup Salim, Begini Rencana Bisnis Bank Ina


(hps/hps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading