CAD Indonesia Diprediksi Melebar, Harga SUN Ambrol

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
27 February 2020 12:15
CAD Indonesia Diprediksi Melebar, Harga SUN Ambrol
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah terperosok, di tengah sentimen dunia yang sedang khawatir terhadap penyebaran virus corona Wuhan (Covid-19). Penyebaran virus ini dikhawatirkan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain.

Data Refinitiv menunjukkan, terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield) hingga belasan bips. Normalnya, pergerakan yield harian adalah di bawah 5 bps.


Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitu pun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan keuntungan yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun, FR0080 bertenor 15 tahun, dan FR0083 bertenor 20 tahun.


Seri acuan yang paling melemah adalah FR0081 yang bertenor 5 tahun dengan kenaikan yield 13,6 basis poin (bps) menjadi 5,82%. Besaran 100 bps setara dengan 1%. Kenaikan tersebut merupakan yang terbesar setidaknya sejak awal tahun ini.

Dalam risetnya pagi ini, lembaga riset Fitch Solutions menilai defisit neraca berjalan (CAD) tahun ini akan melebar menjadi 2,5% PDB dari posisi 2019 yang hanya 2,2% PDB dan pertumbuhan ekonomi 2020 5,1%, di bawah prediksi pemerintah.

Pandangan Fitch Solutions itu lebih konservatif dengan melihat kemampuan pemerintah meluaskan sumber penerimaan, di tengah ancaman epidemik Covid-19.

 

Yield Obligasi Negara Acuan 27 Feb'20

Seri

Jatuh tempo

Yield 26 Feb'20 (%)

Yield 27 Feb'20 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar PHEI 26 Feb'21 (%)

FR0081

5 tahun

5.687

5.823

13.60

5.6869

FR0082

10 tahun

6.582

6.663

8.10

6.6044

FR0080

15 tahun

7.094

7.197

10.30

7.1075

FR0083

20 tahun

7.319

7.375

5.60

7.3094

Sumber: Refinitiv

 

 

 

Pelemahan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 535 bps, melonjak dari posisi kemarin 527 bps. Yield US Treasury 10 tahun naik tipis 0,1 bps dan membuat yield relatif tak bergerak pada 1,3% dari posisi kemarin 1,31%.

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.057 triliun SBN, atau 37,51% dari total beredar Rp 2.818 triliun berdasarkan data per 25 Februari 2020.

Angka itu menunjukkan kepemilikan investor asing sudah mulai keluar dari pasar SUN senilai Rp 12,86 triliun sejak akhir pekan lalu, sedangkan sejak awal bulan masih defisit Rp 19,67 triliun.

Sejak awal tahun ini, posisi investor asing masih negatif Rp 4,47 triliun dibanding posisi akhir Desember 2019 Rp 1.061,86 triliun, tetapi persentasenya turun dari 38,57% pada periode yang sama.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan negara maju, koreksi harga terjadi secara luas sehingga yield mayoritas obligasi negara turun.

Hal tersebut mencerminkan investor global sedang memburu obligasi pemerintah karena sedang dibekap sentimen negatif terkait dengan sifat instrumen utang yang dinilai lebih aman dibanding pasar ekuitas.

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 26 Feb'20 (%)

Yield 27 Feb'20 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil (BB-)

6.57

6.74

17.00

China (A+)

2.877

2.835

-4.20

Jerman (AAA)

-0.495

-0.498

-0.30

Prancis (AA)

-0.225

-0.23

-0.50

Inggris Raya (AA)

0.505

0.509

0.40

India (BBB-)

6.346

6.335

-1.10

Jepang (A)

-0.093

-0.109

-1.60

Malaysia (A-)

2.845

2.851

0.60

Filipina (BBB)

4.323

4.333

1.00

Rusia (BBB)

6.06

6.1

4.00

Singapura (AAA)

1.515

1.471

-4.40

Thailand (BBB+)

-11.24

1.06

1230.00

Amerika Serikat (AAA)

1.31

1.309

-0.10

Afrika Selatan (BB+)

8.675

8.7

2.50

Sumber: Refinitiv

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]




(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading