Efek Corona & Jiwasraya, Duit Rp 688 T Menguap dari Bursa RI

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
27 February 2020 10:16
Efek Corona & Jiwasraya, Duit Rp 688 T Menguap dari Bursa RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan yang terjadi di bursa saham domestik sepanjang tahun ini membuat nilai saham berjatuhan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi sebanyak 9,69% secara year to date hingga Rabu kemarin (26/2/2020) dan tercatat menjadi yang terburuk ketiga dibandingkan bursa saham Asia.

Tekanan terhadap IHSG tersebut membuat nilai kapitalisasi (market capitalization) IHSG tergerus Rp 688,01 triliun menjadi Rp 6.577 triliun. Dibandingkan nilai kapitalisasi yang tercatat pada akhir 2019 senilai Rp 7.265,02 triliun.

Pada periode yang sama, hampir semua sektor mengalami pelemahan yang dipimpin oleh sektor agrikultur yang turun 19,24% dan sektor industri dasar yang mengalami penurunan 19,09%.



Sepanjang tahun ini, wabah virus corona menjadi penekan utama pasar finansial, tidak hanya di dalam negeri tapi secara global.

Hampir semua bursa saham di dunia mengalami koreksi, termasuk bursa Wall Street. Indeks Dow Jones turun 5,11%, bursa Tokyo turun 5,2%, bursa Hong Kong drop 5,3%, bursa China drop 2,04%, bursa Jerman turun 6,06% dan bursa Prancis turun 7,32%.

Foto: Dok IDX

Wabah virus corona yang menyebar dengan cepat di luar China, khususnya di Korea Selatan, Italia dan Iran, membuat sentimen pelaku pasar memburuk.

Hingga hari ini, virus corona telah menginfeksi 81.322 orang secara global, dengan korban meninggal sebanyak 2.770. Namun demikian, korban sembuh telah mencapai 30.322 sejauh ini, menurut Johns Hopkins CSSE.


Dari segi penyebaran, virus mematikan ini terus menyebar ke berbagai negara dunia. Pada Kamis pagi (27/2/2020), secara total sudah ada 45 negara yang mengkonfirmasi wabah, setelah enam negara melaporkan kasus pertama mereka pada Selasa.

Dari semua negara itu, sebanyak 12 negara ada di Benua Eropa. Bahkan Italia, yang ada di Eropa Selatan, menjadi salah satu negara di luar China yang melaporkan kasus kematian terbanyak akibat COVID-19, yaitu 12 korban jiwa.

Penyebaran corona yang begitu cepat telah membuat investor khawatir terhadap resesi ekonomi dunia. Virus ini telah membuat mata rantai ekonomi dunia menjadi terganggu.

Apalagi wabah virus korban terbesarnya berasal dari China, yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar dunia.


Sebagaimana diketahui, China telah menutup beberapa kotanya demi menghindari penyebaran wabah virus corona. Akibatnya, banyak bisnis tidak bisa beroperasi secara normal dan China yang adalah salah satu pemasok utama, tidak bisa memenuhi kebutuhan pelanggan dari negara lain. Ini pada akhirnya akan mengganggu rantai pasokan global.

"Kasus dasar dengan cepat berubah dari 'Buruk (Bad)', yang berarti hanya China yang terkena dampak, ke 'Jelek (Ugly)', di mana baik negara-negara berkembang di Asia dan negara-negara maju mencatatkan kenaikan dalam tingkat infeksi dan kematian," kata Michael Every, Kepala Penelitian Pasar Keuangan untuk Asia- Pasifik di Rabobank di Hong Kong sebagaimana dilansir Reuters.


"Dampak [ekonomi]-nya cenderung menyerupai krisis keuangan global 2008-2009, lebih dari wabah SARS pada tahun 2003."

Menurut para ekonom yang disurvei pada 19-25 Februari lalu, negara-negara yang bakal terdampak ekonominya adalah Australia, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Thailand. Kesemua negara itu diproyeksikan akan mencatatkan kinerja terburuk mereka selama bertahun-tahun pada kuartal pertama.

"Hanya Indonesia yang diperkirakan akan tetap relatif tidak terdampak," tulis Reuters.

Dalam jajak pendapat sebelumnya, yang diterbitkan seminggu yang lalu, ekonomi China diproyeksikan akan tumbuh pada laju paling lambat pada kuartal saat ini sejak krisis keuangan. Di mana skenario kasus terburuk menunjukkan ekonomi melambat menjadi 3,5%, turun tajam dari pertumbuhan 6% yang dilaporkan pada kuartal keempat tahun 2019.

Di luar China, ekonomi Korea Selatan diperkirakan bakal jadi yang paling terdampak meski dampak wabah terhadap ekonomi sejauh ini tampaknya sederhana. Para ekonom memproyeksikan ekonomi Negeri Ginseng akan tumbuh di 2,1% pada kuartal pertama, turun 0,4 poin persentase dari jajak pendapat Reuters pada Januari.

[Gambas:Video CNBC]


Sementara Singapura, kota pelabuhan dan mitra dagang utama China ini diperkirakan akan mengalami kontraksi 0,6% pada kuartal ini. Ini akan menjadi penurunan pertama sejak resesi akibat krisis keuangan global terjadi pada 2009.

"Dampak dari coronavirus terhadap ekonomi di Asia berpotensi besar, karena pariwisata di kawasan ini terpukul. Dari hotel sepi hingga bandara yang kosong, dampak potongan kecil protein dan lipid (virus) ini terhadap ekonomi di kawasan ini berpotensi sangat besar," kata Robert Carnell, kepala ekonom dan kepala penelitian untuk Asia-Pasifik di ING di Singapura.

"Jika ini tidak terdengar cukup menakutkan, ingatlah bahwa pariwisata hanyalah salah satu saluran melalui mana coronavirus dapat melemahkan pertumbuhan PDB negara-negara Asia yang bergulat dengan epidemi ini."

Di sisi lain, ekonomi Thailand dan Taiwan diperkirakan akan tumbuh di angka 0,2% dan 1,3% di kuartal saat ini, yang mana merupakan pertumbuhan terendah dalam hampir setengah dekade.

Berbeda dengan negara-negara di atas, ekonomi Australia malah diproyeksikan akan stagnan pada kuartal saat ini, menghentikan laju pertumbuhan yang telah dibuat negara ini sejak 1991.

"Ini [wabah virus] dapat merusak pertumbuhan di beberapa negara selain dampak negatif dari China. Peningkatan tajam dalam infeksi yang dilaporkan oleh beberapa negara menimbulkan kekhawatiran akan pukulan yang lebih parah ke negara-negara ini dan juga pertumbuhan global," kata Johanna Chua, ekonom pasar berkembang Asia di Citi di Hong Kong.

Bahkan, para ekonom berpendapat bahwa apabila wabah terus memburuk dan dan semakin membebani prospek, pertumbuhan diperkirakan akan turun lebih lanjut sebesar 0,5 poin persentase menjadi satu poin persentase penuh di semua negara yang disurvei.

"Dampak paling kecil adalah pada Indonesia, yang diperkirakan akan tumbuh 4,7% tahun ini," jelas Reuters lagi.


Selain masalah virus corona, sentimen dari internal adalah kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Skandal ini banyak melibatkan pelaku industri pasar modal.

Enam tersangka sudah ditetapkan oleh Kejagung atas kasus ini. Selain itu Kejagung juga memblokir sejumlah rekening.

Ada kekhawatiran di kalangan dari pelaku pasar kasus ini berdampak sistemik. Apalagi sudah ada beberapa perusahaan manajer investasi dan asuransi yang ikut terkait masalah Jiwasraya.


[Gambas:Video CNBC]




(hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading