Akhir Sesi Satu, IHSG Masih Menuju Koreksi 3 Hari Beruntun

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
14 February 2020 12:12
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan terakhir di pekan ini, Jumat (14/2/2020), di zona merah.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG melemah 0,24% ke level 5.857,72. Per akhir sesi satu, koreksi IHSG telah menipis menjadi 0,06% ke level 5.868,55.

Jika koreksi IHSG bertahan hingga akhir perdagangan, maka akan menandai koreksi selama tiga hari beruntun.


Saham-saham yang berkontribusi signifikan dalam menekan kinerja IHSG di antaranya: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (-1,61%), PT Bank Central Asia Tbk/BBCA (-0,52%), PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (-0,96%), PT Barito Pacific Tbk/BRPT (-2,04%), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk/TPIA (-0,83%).


Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang justru sedang bergerak di zona hijau. Hingga berita ini diturunkan, indeks Shanghai naik 0,52%, indeks Hang Seng menguat 0,6%, indeks Straits Times terapresiasi 0,13%, dan indeks Kospi terangkat 0,49%.

Bursa saham Benua Kuning berhasil menguat walaupun Wall Street terpeleset pada perdagangan kemarin, Kamis (13/2/2020). Pada penutupan perdagangan kemarin, indeks Dow Jones turun 0,43%, indeks S&P melemah 0,16%, dan indeks Nasdaq Composite terkoreksi 0,14%.

Bursa saham AS terpeleset pasca sudah ditutup di level tertinggi sepanjang sejarah pada penutupan perdagangan hari Rabu (12/2/2020).

Kinerja Wall Street dalam beberapa waktu terakhir memang bisa dibilang menggembirakan, sebelum akhirnya terpeleset pada perdagangan kemarin. Indeks S&P 500 misalnya, tercatat menguat selama tiga hari beruntun yakni pada periode 10-12 Februari.

Rilis data ekonomi yang menggembirakan menjadi faktor yang memantik aksi beli di bursa saham AS di sepanjang pekan ini. Menjelang akhir pekan kemarin, penciptaan lapangan kerja periode Januari 2020 (di luar sektor pertanian) versi resmi pemerintah AS diumumkan sebanyak 225.000, jauh di atas ekspektasi yang sebanyak 163.000, seperti dilansir dari Forex Factory.

Rilis data ekonomi yang menggembirakan tersebut memberikan harapan bahwa laju perekonomian AS akan membaik di tahun 2020.

Belum lama ini, pembacaan awal atas angka pertumbuhan ekonomi AS periode kuartal IV-2019 diumumkan di level 2,1% (QoQ annualized), sesuai dengan konsensus yang dihimpun oleh Dow Jones.

Untuk keseluruhan tahun 2019, perekonomian AS hanya tumbuh 2,3%, menandai laju pertumbuhan terlemah dalam tiga tahun. Untuk diketahui, pada tahun 2017 perekonomian AS tumbuh sebesar 2,4%, diikuti pertumbuhan sebesar 2,9% pada tahun 2018.

Laju pertumbuhan tersebut juga berada di bawah target yang dipatok oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Pasca resmi memangkas tingkat pajak korporasi dan individu pada tahun 2017, Gedung Putih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi untuk setidaknya berada di level 3%.

Di sisi lain, kinerja bursa saham Benua Kuning dibatasi oleh terus meluasnya infeksi virus Corona.

Virus Corona sendiri merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Gejala dari paparan virus Corona meliputi batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam, seperti dilansir dari CNN International.

Berpusat di China, kasus infeksi virus Corona juga dilaporkan telah terjadi di negara-negara lain. Melansir publikasi Johns Hopkins, hingga kini setidaknya sebanyak 28 negara telah mengonfirmasi terjadinya infeksi virus Corona di wilayah mereka.

China, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, AS, Vietnam, Prancis, Jerman, Inggris, Nepal, dan Kanada termasuk ke dalam daftar negara yang sudah melaporkan infeksi virus Corona.

Melansir Bloomberg News, hingga kemarin sebanyak 1.483 orang di China telah meninggal akibat infeksi virus Corona.

Riset dari Standard & Poor's (S&P) menyebutkan bahwa virus Corona akan memangkas pertumbuhan ekonomi China sekitar 1,2 persentase poin. Jadi, kalau pertumbuhan ekonomi China pada tahun ini diperkirakan berada di level 6%, maka virus Corona akan memangkasnya menjadi 4,8% saja.

Untuk diketahui, pada tahun 2019 perekonomian Negeri Panda tercatat tumbuh sebesar 6,1%, melambat signifikan dari yang sebelumnya 6,6% pada tahun 2018. Melansir CNBC International yang mengutip Reuters, pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2019 merupakan yang terlemah sejak tahun 1990.

"Pada tahun 2019, konsumsi menyumbang sekitar 3,5 persentase poin dari pertumbuhan ekonomi China yang sebesar 6,1%. Dengan perkiraan konsumsi domestik turun 10%, maka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan berkurang sekitar 1,2 persentase poin," tulis riset S&P.



Konsumsi Lemah, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Terus Loyo
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading