Holding BUMN Farmasi Terbentuk, Bisakah Jadi Pemain Global?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
04 February 2020 16:16
PT Bio Farma menjadi perusahaan induk untuk perusahaan pelat merah.
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akhirnya resmi menyatakan perusahaan induk (holding) farmasi resmi terbentuk. PT Bio Farma (Persero) menjadi perusahaan induk untuk perusahaan pelat merah farmasi.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyampaikan prospek industri farmasi sangat besar, di mana angka pertumbuhannya dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan ekonomi.

Pembentukan holding farmasi tersebut suda tertuang dalam PP Nomor 76 tahun 2019 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Bio Farma yang dikeluarkan pada 15 Oktober 2019 dan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) no 862/KMK.06/2019 soal inbreng saham.



"Industri farmasi ini di dunia ini besarnya US$ 7,6 triliun. Hebatnya lagi pertumbuhan biaya kesehatan negara hampir selalu 2 kali lipat dari pertumbuhan ekonomi negara. Jadi kalau Indonesia [pertumbuhan ekonomi] 5% maka biaya kesehatan tumbuh 2 kali lipatnya 10%. Jadi industri farmasi prospeknya besar banget," ujar Arya, Selasa (4/2/2020).

Arya mengatakan, dengan adanya sub-hoding farmasi ini maka akan tercipta ketahanan, ketersediaan, keterjangkauan, mutu dan kesinambungan obat nasional. Selain itu ini akan membangun industri kesehatan nasional inklusif, mandiri dan efisien.

Selain itu, diharapkan perusahaan farmasi RI bisa jadi perusahaan kelas dunia. "Dengan sub-holding ini terbangun kemandirian obat dan alat yang sampai hari ini 90%-94% masih impor. Sementara Indonesia sumber keanekaragaman hayati bisa jadi biodiversity," tambah Arya.

Arya memaparkan, total impor alat kesehatan Indonesia mencapai US$ 750 juta atau setara Rp 10,20 triliun (asumsi kurs Rp 13.600/US$). Sementara impor bahan baku US$ 1,3 miliar atau Rp 18 triliun, di mana 60% dari China dan 30% dari India.

Presiden Joko Widodo sebelumnya telah meneken PP Nomor 76 tahun 2019 pada 15 Oktober 2019. PP tersebut untuk memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan kapasitas usaha Bio Farma.

"Pemerintah memandang perlu menambah penyertaan modal ke dalam Perusahaan Perseroan(Persero) PT Bio Farma," tulis keterangan resmi Setkab.

Penambahan penyertaan modal negara sebagaimana dimaksud, menurut PP ini, mengakibatkan pertama, status Kimia Farma dan Indofarma berubah menjadi perseroan terbatas yang tunduk sepenuhnya pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Kedua, Bio Farma menjadi pemegang saham Kimia Farma dan Indofarma.

"Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan," bunyi Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2019, yang telah diundangkan oleh Plt. Menteri Hukum dan HAM, Tjahjo Kumolo, pada 17 Oktober 2010.

[Gambas:Video CNBC]


Pada 18 September silam, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga sudah resmi menunjuk Honesti Basyir, mantan Direktur Utama Kimia Farma menjadi Direktur Utama Bio Farma, perusahaan induk dari Holding BUMN Farmasi yang diiniasi pemerintah.

Tiga BUMN yang akan bergabung dalam satu naungan Holding BUMN Farmasi adalah Bio Farma, PT Kimia Farma Tbk (KAEF), dan PT Indofarma Tbk (INAF). Holding BUMN Farmasi ini bertujuan agar kinerja BUMN farmasi lebih kuat dan mempermudah akses terhadap investasi yang berujung pada ekspansi bisnis.

Artikel Selanjutnya

Holding Farmasi Terbentuk, Harga Obat Diklaim Bakal Murah


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading