China Suntik Likuiditas Rp 2.352 T, Apa Dampaknya ke RI?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
03 February 2020 12:28
Bank Sentral China (People's Bank of China/PBoC) akan menyuntik likuiditas senilai US$ 173 miliar.

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Sentral China (People's Bank of China/PBoC) akan menyuntik likuiditas senilai US$ 173 miliar atau setara dengan Rp 2.352 triliun (asumsi kurs Rp 13.600 per US$). Strategi ini dilakukan pemerintah China untuk memastikan ketersediaan likuiditas melalui operasi pasar terbuka atau reverse repo.

Melansir Reuters, Senin (3/2/2020), PBoC menyatakan melalui suntikan ini akan meningkatkan likuiditas perbankan China hingga 900 miliar yuan lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Tak hanya itu, Negeri Tirai Bambu juga tak ingin pasar keuangan di negaranya jadi terganggu akibat kian meluasnya virus korona.

Head of Research Division PT BNI Sekuritas, Damhuri Nasution berpendapat, suntikan modal dari China ke pasar keuangan bakal berdampak positif bagi pasar saham maupun obligasi Indonesia.

"Suntikan dana yang dilakukan PBoC dimaksudkan untuk menjaga likuiditas di pasar, sehingga pasar saham dan obligasi China tidak semakin terpuruk akibat merebaknya virus corona," kata Damhuri kepada CNBC Indonesia, Senin (3/2/2020).


Dia menambahkan, suntikan likuiditas ini, secara tidak langsung akan menahan penurunan di pasar saham dan obligasi.

Mengacu data BEI, sepanjang tahun berjalan, Indeks Harga Saham Gabungan masih terkoreksi 6,07%. Pada sesi pertama perdagangan, Senin (3/2/2020), IHSG terkoreksi 0,45% ke level 5.913,61.

Menurut Damhuri, peningkatan likuiditas PBoC juga bertujuan untuk mendorong agar aktivitas ekonomi China tetap bertumbuh, sehingga diharapkan, aktivitas ekonomi di China membaik dan berdampak positif bagi ekspor Indonesia.

"Jadi meskipun tidak langsung, dampak suntikan likuiditas yang dilakukan bank sentral China akan positif ke pasar modal kita," ujarnya menjelaskan.

Kepala Riset PT Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy mengungkapkan hal senada. Menurutnya, efek dari suntikan likuiditas dari bank sentral China ini belum ada dampak langsung ke Indonesia, tapi secara psikologis akan berdampak pada optimisme pasar di kawasan regional Asia.

"Dampaknya lebih ke psikologis pasar saja. Langkah ini diharapkan dapat mengembalikan optimisme di kawasan regional Asia, termasuk Indonesia," katanya, Senin (3/2/2020).

AFP mencatat, penyebaran virus corona yang makin masif membuat bursa saham China hari ini terjerembab. Ratusan saham perusahaan di bursa Tiongkok anjlok hingga 10%. Investor khawatir virus corona bakal menghancurkan perekonomian.

Dilansir dari AFP, Senin (3/2/2020), indeks Shanghai Composite jatuh 8,13% atau 241,87 poin ke 2.734,66. Sementara indeks Shenzhen Composite turun 8,3% atau 145,78 poin ke 1.611,04. Sedangkan bursa saham di Hong Kong bisa naik 0,09% atau 23,78 poin ke 26.336,41.

Kejatuhan saham di bursa China ini mengindikasikan besarnya kekhawatiran investor akan dampak ekonomi akibat penyebaran virus corona. Sekarang, jumlah korban tewas akibat virus corona sudah melewati korban SARS di 2003.

"Investor panik karena penyebaran virus corona yang cepat," kata Yang Delong, Ekonom dari First Seafront Fund.

Menurut data Bloomberg, lebih dari 2.600 saham jatuh hingga 10%. Nilai tukar yuan juga melemah lebih dari 1,5% terhadap dolar AS.


[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya

Tak Terduga! Dampak Corona, China Pangkas Bunga Acuan


(tas/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading