Rupiah Masih Betah Dukung Penguatan Harga Obligasi Pemerintah

Market - irv, CNBC Indonesia
24 January 2020 21:36
Rupiah Masih Betah Dukung Penguatan Harga Obligasi Pemerintah
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah ditutup menguat lagi dan menggenapi penguatan yang terjadi selama sepekan ini dan memicu penguatan rupiah yang juga terjadi hampir beruntun.

Kondisi negatif di negara berkembang Asia lain seperti inflasi tinggi India, virus Corona di China, dan penurunan peringkat utang Hong Kong juga membuat pelaku pasar global lebih meminati pasar surat utang negara (SUN).

Naiknya harga SUN itu seiring dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain. Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).


Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan keuntungan yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun, FR0080 bertenor 15 tahun, dan FR0083 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling menguat adalah FR0080 yang bertenor 15 tahun dengan penurunan yield 11,6 basis poin (bps) menjadi 7,07%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

 

Yield Obligasi Negara Acuan 24 Jan'20

Seri

Jatuh tempo

Yield 23 Jan'20 (%)

Yield 24 Jan'20 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar PHEI 24 Jan'21 (%)

FR0081

5 tahun

6.009

5.996

-1.30

5.921

FR0082

10 tahun

6.673

6.616

-5.70

6.5798

FR0080

15 tahun

7.186

7.07

-11.60

7.0246

FR0083

20 tahun

7.328

7.295

-3.30

7.2561

Sumber: Refinitiv



Apresiasi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih menguat. Indeks tersebut naik 0,77 poin (0,28%) menjadi 276,58 dari posisi kemarin 275,81.

Penguatan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 489 bps, menyempit dari posisi kemarin 493 bps. Yield US Treasury 10 tahun turun 1,3 bps hingga 1,72% dari posisi kemarin1,73%.

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.087,99 triliun SBN, atau 39,11% dari total beredar Rp 2.781 triliun berdasarkan data per 23 Januari.

Angka itu menunjukkan kepemilikan investor asing masih masuk ke pasar SUN senilai Rp 3,84 triliun sejak akhir pekan lalu, sedangkan sejak awal bulan atau berarti sejak awal tahun masih surplus Rp 26,13 triliun.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan negara maju, mayoritas masih mengalami penguatan harag sehingga yield mayoritas obligasi negara turun.

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 23 Jan'20 (%)

Yield 24 Jan'20 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil (BB-)

6.75

6.745

-0.50

China (A+)

3.053

3.05

-0.30

Jerman (AAA)

-0.312

-0.308

0.40

Prancis (AA)

-0.062

-0.055

0.70

Inggris Raya (AA)

0.592

0.583

-0.90

India (BBB-)

6.596

6.578

-1.80

Jepang (A)

-0.022

-0.018

0.40

Malaysia (A-)

3.174

3.166

-0.80

Filipina (BBB)

4.702

4.589

-11.30

Rusia (BBB)

6.2

6.21

1.00

Singapura (AAA)

1.664

1.656

-0.80

Thailand (BBB+)

1.415

1.39

-2.50

Amerika Serikat (AAA)

1.739

1.726

-1.30

Afrika Selatan (BB+)

9.02

9.02

0.00

Sumber: Refinitif



TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading