Digempur Sana-sini, Harga Batu Bara Tertekan Tak Berdaya

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
22 January 2020 10:56
Digempur Sana-sini, Harga Batu Bara Tertekan Tak Berdaya
Jakarta, CNBC Indonesia - Kemarin, harga batu bara kontrak lagi-lagi ditutup melemah. Pelemahan harga terus terjadi setelah sempat reli dan mencetak rekor tertinggi sejak September tahun lalu.

Kemarin, Selasa (21/1/2020) harga batu bara kontrak Newcastle ditutup di level US$ 70,95/ton atau terkoreksi 0,63%. Sejak mencetak rekor tertingginya pada 13 Januari, harga batu bara telah melorot 8%.

Reuters maleporkan Indeks Baltic kembali mengalami penurunan. Indeks Baltic sendiri mengukur pengiriman komoditas menggunakan kapal kargo. Indeks ini terdiri dari Indeks Panamax, Indeks Supramax, dan Indeks Capesize.

Indeks Capesize digunakan untuk mengukur tingkat pengiriman komoditas seperti bijih besi dan batu bara dengan kapasitas muatan mencapai 170.000-180.000 ton. Indeks Baltic Capesize turun 16,5% ke level 495 dan mencatatkan level terendah dalam 9 bulan.


Faktor lain yang juga turut memberatkan harga batu bara adalah ramalan pertumbuhan ekonomi oleh IMF. Tahun ini IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi berada di angka 3,3% turun dari prediksi sebelumnya di 3,4%.

Hal ini disebabkan karena India dan sebagian negara berkembang lain mengalami perlambatan ekonomi lebih tajam dari yang diperkirakan. Perlambatan ekonomi yang masih mungkin terjadi di India bukan kabar baik untuk batu bara. Pasalnya India merupakan salah satu konsumen batu bara terbesar setelah China.

Di sepanjang 2019 sektor utilitas India juga sedang tak baik-baik saja. Berdasarkan studi The Institute for Energy Economics and Financial Analysis, sejak April-Oktober tahun lalu, konsumsi batu bara termal untuk pembangkit listrik turun 2,3 juta ton dibanding periode yang sama tahun lalu, mengutip Quartz India. Jadi kalau pertumbuhan ekonomi India masih akan melambat jelas bukan kabar baik untuk batu bara.

Selain itu, pada pertemuan World Economic Forum di Davos salah satu agenda utama yang dibahas adalah perubahan iklim. Banyak pihak yang terus mendorong pengurangan emisi karbon. Batu bara merupakan salah satu bahan bakar dengan tingkat emisi yang tinggi.

Menurut laporan EIA, permintaan batu bara akan stabil hingga 2024. Dalam laporan tersebut EIA menjelaskan permintaan dari Eropa dan AS akan terus turun. Namun kenaikan permintaan dari Asia akan mengimbangi penurunan tersebut.

Sementara itu beralih ke sisi produksi, Australia yang tengah dilanda bencana kebakaran, asap dan tingkat kualitas udara yang buruk berpotensi menghambat produksi batu bara jika terus menerus terjadi. Hal ini diungkapkan langsung oleh raksasa pertambangan BHP Group pada 21 Januari kemarin.

"Asap dan debu akibat kebakaran menyebabkan buruknya kualitas udara di fasilitas operasi kami yang mengganggu produksi kami pada Desember 2019" kata BHP dalam trading update, melansir coalresource.com


[Gambas:Video CNBC]






TIM RISET CNBC INDONESIA
(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading