Prospek Ekonomi Global Meredup, IHSG ke Zona Merah

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
21 January 2020 09:28
Prospek Ekonomi Global Meredup, IHSG ke Zona Merah
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan kedua di pekan ini, Selasa (21/1/2020), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 0,11% ke level 6.252. Sayang, dengan cepat IHSG berbalik arah ke zona merah. Pada pukul 09:25 WIB, indeks saham acuan di Indonesia tersebut terkoreksi 0,21% ke level 6.231.81.

Kinerja IHSG senada dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang juga sedang melaju di zona merah. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei terkoreksi 0,93%, indeks Shanghai turun 0,91%, indeks Hang Seng jatuh 1,8%, indeks Straits Times melemah 1,16%, dan indeks Kospi terpangkas 0,6%.



Dipangkasnya proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh International Monetary Fund (IMF) menjadi faktor yang melandasi aksi jual di bursa saham Benua Kuning.

Pada proyeksinya di bulan Oktober, IMF memproyeksikan perekonomian global tumbuh sebesar 3% pada tahun 2019 dan 3,4% pada tahun 2020. Dalam proyeksi terbarunya, angka pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2019 dipangkas menjadi 2,9%, sementara untuk tahun 2020 proyeksinya berada di level 3,3%.

Melansir CNBC International, dipangkasnya proyeksi pertumbuhan ekonomi global utamanya dipicu oleh pertumbuhan yang lebih rendah di India.

"Proyeksi terkait pemulihan pertumbuhan ekonomi global tetaplah diselimuti ketidakpastian. Perekonomian dunia terus bergantung kepada pemulihan dari negara-negara berkembang yang dipenuhi dengan tekanan, sementara pertumbuhan di negara-negara maju bergerak stabil di kisaran level saat ini," papar Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath dalam keterangan tertulis, seperti dilansir dari CNBC International.


Melalui publikasi World Economic Outlook (WEO) edisi Januari 2020, IMF memaparkan kekhawatirannya terkait dengan kondisi perekonomian dunia di masa depan, utamanya terkait dengan memanasnya tensi di bidang perdagangan antar negara-negara dengan nilai perekonomian raksasa.

"Tensi di bidang perdagangan yang baru bisa muncul antara AS dan Uni Eropa, dan tensi antara AS dan China bisa kembali memanas," jelas Gopinath.

Seperti yang diketahui, pada hari Rabu waktu setempat (15/1/2020) AS dan China menandatangani kesepakatan dagang tahap satu di Gedung Putih, AS. Dari pihak AS, penandatanganan dilakukan langsung oleh Presiden Donald Trump, sementara pihak China mengirim Wakil Perdana Menteri Liu He.

Sesuai dengan yang diumumkan oleh Trump pada bulan Desember, melalui kesepakatan dagang tahap satu AS akan memangkas bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar menjadi setengahnya atau 7,5%.
Namun, bea masuk sebesar 25% bagi produk impor asal China senilai US$ 250 miliar tetap akan dipertahankan. Hal ini dilakukan oleh AS guna menjaga daya tawarnya dengan China memasuki negosiasi dagang tahap dua.

Jadi, sejauh ini memang masih ada kemungkinan bahwa perang dagang AS-China bisa kembali memanas, mengingat keduanya belum mencapai kesepakatan dagang secara menyeluruh yang menghapuskan seluruh bea masuk tambahan.

Sebagai catatan, pada perdagangan kemarin, Senin (20/1/2020), IHSG melemah sebesar 0,74%. Koreksi IHSG pada perdagangan kemarin dimotori oleh jual bersih senilai Rp 298,51 miliar yang dilakukan oleh investor asing.

Pada perdagangan hari ini, investor asing membukukan beli bersih senilai Rp 2,14 miliar di pasar reguler. Jika investor asing kembali membukukan jual bersih nantinya, koreksi yang dibukukan IHSG bisa menjadi semakin dalam.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]




(ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading