Pasar Asia Ditutup Positif, Harga SUN Ikutan Menghijau

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
16 January 2020 18:46
Pasar Asia Ditutup Positif, Harga SUN Ikutan Menghijau

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah ditutup menguat hari ini di tengah sentimen global yang belum jelas, mengindikasikan masih ada harapan dari pelaku pasar terhadap damai dagang fase I Amerika Serikat (AS)-China yang diteken kemarin.

Naiknya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan koreksi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang lain. Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan hasil investasi juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.


SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun, FR0080 bertenor 15 tahun, dan FR0083 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling menguat adalah FR0081 yang bertenor 5 tahun dengan penurunan yield 4,6 basis poin (bps) menjadi 6,19%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

 

Yield Obligasi Negara Acuan 16 Jan'20

Seri

Jatuh tempo

Yield 15 Jan'20 (%)

Yield 16 Jan'20 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar PHEI 16 Jan'20 (%)

FR0081

5 tahun

6.241

6.195

-4.60

6.1591

FR0082

10 tahun

6.882

6.846

-3.60

6.828

FR0080

15 tahun

7.335

7.332

-0.30

7.3106

FR0083

20 tahun

7.472

7.45

-2.20

7.4296

Sumber: Refinitiv

 
Apresiasi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih menguat. Indeks tersebut naik 0,35 poin (0,13%) menjadi 273,09 dari posisi kemarin 272,74.

Penguatan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 505 bps, menyempit dari posisi kemarin 509 bps. Yield US Treasury 10 tahun naik tipis 0,2 bps hingga 1,79% dari posisi kemarin 1,78%.

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.083 triliun SBN, atau 39,24% dari total beredar Rp 2.760 triliun berdasarkan data per 14 Januari.

Angka menunjukkan kepemilikan investor asing masih masuk ke pasar SUN senilai Rp 9,92 triliun sejak akhir pekan lalu, sedangkan sejak awal bulan dan awal tahun masih surplus Rp 21,22 triliun.

Dari pasar surat utang negara berkembang, koreksi harga terjadi secara luas sehingga yield mayoritas obligasi negara naik. Hal sebaliknya terjadi di pasar negara maju.

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 15 Jan'20 (%)

Yield 16 Jan'20 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil (BB-)

6.76

6.77

1.00

China (A+)

3.141

3.143

0.20

Jerman (AAA)

-0.207

-0.213

-0.60

Prancis (AA)

0.05

0.047

-0.30

Inggris Raya (AA)

0.654

0.647

-0.70

India (BBB-)

6.624

6.618

-0.60

Jepang (A)

0.009

0.012

0.30

Malaysia (A-)

3.268

3.288

2.00

Filipina (BBB)

4.781

4.796

1.50

Rusia (BBB)

6.24

6.34

10.00

Singapura (AAA)

1.737

1.738

0.10

Thailand (BBB+)

1.43

1.45

2.00

Amerika Serikat (AAA)

1.788

1.79

0.20

Afrika Selatan (BB+)

8.26

8.23

-3.00

Sumber: Refinitiv


TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading