Yen Makin "Terbuang", Kini di Level Terlemah 8 Bulan

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
14 January 2020 09:39
Meredanya risiko terjadinya perang antara AS dengan China pada pekan lalu membuat yen yang begitu perkasa langsung berbalik melemah.
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar yen Jepang merosot melawan dolar Amerika Serikat (AS) sejak pekan lalu. Hanya dalam lima hari perdagangan, yen yang sebelumnya berada di level terkuat tiga bulan berbalik mendekati level terlemah delapan bulan.

Pada pukul 9:25 WIB, yen melemah 0,11% ke level 110.5/US$ di pasar spot, melansir data Refinitiv. Level tersebut merupakan yang terlemah sejak 23 Mei 2018.

Meredanya risiko terjadinya perang antara AS dengan China pada pekan lalu membuat yen yang begitu perkasa langsung berbalik melemah.


Pada Rabu (8/1/2020) pagi pelaku pasar dikejutkan dengan serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Irak. Dampaknya pelaku pasar langsung mencari aman, dan masuk ke aset safe haven seperti yen. Kurs yen melawan dolar AS langsung menguat ke 107,63/US$ yang merupakan level terkuat tiga bulan. Jika dilihat dari level terkuat tersebut, hingga hari ini, yen sudah merosot 2,24%.

Tetapi kurang dari 24 jam, yen langsung berbalik melemah setelah Presiden AS, Donald Trump, menurunkan tensi dengan Iran.



Dalam pidatonya pada Rabu malam waktu Indonesia, Trump mengindikasikan tidak akan menggunakan kekuatan militer terhadap Iran. Presiden AS ke-45 ini juga mengatakan membuka peluang bernegosiasi dengan Iran.

"Kita semua harus bekerja sama untuk mencapai kesepakatan dengan Iran yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman dan damai" kata Trump sebagaimana dilansir CNBC International.

Sejak saat itu, sentimen pelaku pasar terus membaik, dan yen si safe haven akhirnya "terbuang".



Tekanan bagi yen semakin besar di kala sentimen pelaku pasar sedang bagus-bagusnya menanti kesepakatan dagang fase I AS dengan China, yang rencananya akan diteken pada Rabu (15/1/2020) besok, waktu Washington.

Dalam kesepakatan dagang fase I, Presiden Trump mengatakan bahwa bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar nantinya akan dipangkas menjadi 7,5% saja sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu.

Sementara dari pihak China, Trump menyebut bahwa China akan segera memulai pembelian produk agrikultur asal AS yang jika ditotal akan mencapai US$ 50 miliar.

Ketika perang dagang AS-China tidak lagi tereskalasi, laju pertumbuhan ekonomi global diharapkan akan lebih terakselerasi. Dalam kondisi tersebut sentimen pelaku pasar akan membuncah, dan masuk ke aset-aset berisiko dengan imbal hasil tinggi, dan yen sebagai aset safe haven akan tidak menarik lagi.

TIM RISET CNBC INDONESIA 
(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading