Demi Gasifikasi, PGN Siapkan 7 Strategi di 2020

Market - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
26 December 2019 10:52
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN mengungkapkan ada tujuh fokus.
Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN mengungkapkan ada tujuh fokus yang akan dikerjakan perseroan pada tahun 2020 mendatang guna meningatkan kinerja bisnis.

Direktur Utama PGN Gigih Prakoso mengatakan ketujuh rencana tersebut yakni pertama, pengembangan infrastruktur pipa gas untuk transmisi dan distribusi. Kedua, peningkatan volume niaga gas ke pelanggan eksisting dan pelanggan baru.

Ketiga, pembangunan fasilitas liquefied natural gas (LNG) terminal untuk suplai LNG ke pasar domestik. Keempat, gasifikasi kilang-kilang minyak PT Pertamina (Persero) di Cilacap, Balikpapan, PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI),Tuban.



Kelima, gasifikasi pembangkit-pembangkit PLN dari BBM ke gas. Keenam, pengembangan trading LNG global dan pengembangan fasilitas LNG infra di regional.

"Terakhir program efisiensi biaya operational expenses (opex) dan capital expenditure (capex)," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, pekan lalu.

Pemerintah tengah fokus menggarap potensi gasifikasi batu bara demi menekan impor gas. Bahkan, sejak awal bulan lalu Presiden Joko Widodo berkali-kali menekankan potensi ini, tujuannya tak lain adalah untuk menekan defisit transaksi berjalan atau current account deficit CAD).


Terkait rencana ini, menurut Gigih nilai keekonomiannya akan tergantung pada tiga hal. Pertama, pemilihan tekhnologi yang tepat. Kedua, harga beli raw material berupa low rank coal. "Lalu, harga komoditas produk akhir berupa syngas, methanol, dimethyl ether (DME), ethanol," terangnya.

Seperti diketahui, Pertamina dan PT Bukit Asam (PTBA) tengah fokus menjalankan program ini. PTBA sudah memastikan akan memilih Tanjung Enim (Sumatera Selatan) sebagai lokasi proyek gasifikasi.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan, terkait rencana pembangunan proyek gasifikasi pihaknya sudah melakukan joint venture agreement di Amerika Serikat tahun lalu dan studi kelayakan juga sudah selesai November 2019.

Berdasarkan studi tersebut dari dua lokasi antara Peranap di Indragiri Hulu, Riau dan Tanjung Enim Muara Enim, Sumatra Selatan, hasilnya lebih layak proyek dibangun di Tanjung Enim dengan pertimbangan dukungan infrastruktur dan lainnya. Selain itu dari segi belanja modal (capex) di Tanjung Enim juga lebih efisien.

"Dari hasil studi kita putuskan di Tanjung Enim," ungkapnya di Jakarta, Senin, (23/12/2019).

[Gambas:Video CNBC]


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading