Emas Cuek: Hard-Brexit Hingga Pemakzulan Trump Tak Digubris

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
19 December 2019 21:37
Emas Cuek: Hard-Brexit Hingga Pemakzulan Trump Tak Digubris
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas global bebal di pekan ini, sejak awal pekan pergerakannya di situ-situ saja, padahal banyak isu yang bisa memicu pergerakan besar pada logam mulia ini.

Pada pukul 21:09 WIB, emas diperdagangkan di level US$ 1.476,35/troy ons, menguat 0,08% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sejak awal pekan, rentang pergerakan emas terbesar terjadi pada Rabu kemarin, itu pun hanya di kisaran US$ 1.469-1.479/troy ons.

Grafik di bawah ini menunjukkan bagaimana harga emas yang mendatar sejak awal pekan, dan hanya bergerak di sekitar itu-itu saja, bebal di kala banyak sentimen yang membuat instrumen investasi lainnya atraktif.




Isu pertama yang seharusnya bisa membuat harga emas bergerak dengan rentang lebar yakni Perang dagang AS-China yang sudah memasuki babak baru dengan kesepakatan dagang fase I pada Jumat (13/12/2019) lalu.

Di awal pekan ini, Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, dan Penasihat Ekonomi Gedung Putih Lawrence Kudlow kompak menyatakan jika kesepakatan fase I sudah sepenuhnya selesai, sebagaimana diwartakan Reuters.

Lighthizer dalam acara Face The Nation yang ditayangkan di CBS mengungkapkan bahwa naskah kesepakatan damai dagang AS-China tinggal menunggu pemeriksaan yang sifatnya rutin saja. Tidak ada perubahan yang mendasar karena semua sudah disepakati.

Sementara itu, Kudlow berharap Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping dari China akan menandatangani perjanjian tersebut pada awal Januari. Selepas itu, AS-China akan memulai negosiasi damai dagang fase II. Meski demikian, kabar bagus tersebut belum sanggup menjungkalkan harga emas.



Beralih ke Inggris, risiko terjadinya hard Brexit yang meningkat seharusnya juga bisa "melecut" harga emas. Setelah Partai Konservatif pimpinan Perdana Menteri (PM) Boris Johnson memenangi Pemilihan Umum (Pemilu), kini Johnson dikabarkan akan merevisi undang-undang keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Withdrawal Agreement Bill).

CNBC International mengutip media lokal mewartakan PM Johnson akan merevisi undang-undang tersebut yang menghalangi diperpanjangnya masa transisi keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Dengan singkatnya masa transisi, pembahasan perjanjian dagang pun harus dipercepat sehingga PM Johnson bakal melakukan pendekatan lebih keras.

Hal ini memicu kekhawatiran tidak akan ada kesepakatan dagang antara Inggris dan Uni Eropa alias hard Brexit yang bisa mengancam perekonomian Inggris. Hal tersebut semestinya membuat daya tarik emas kembali meningkat. Namun nyatanya, harga emas masih bebal.

Terbaru, Presiden AS, Donald Trump resmi dimakzulkan oleh House of Representative (DPR) pada hari Rabu waktu setempat. Meski demikian, proses pemakzulan Trump masih belum selesai.

Pengadilan pemakzulan Trump akan digelar Senat AS, yang akan menentukan apakah Presiden AS ke-45 ini harus keluar dari Gedung Putih atau membebaskannya dari dakwaan penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi penyelidikan Kongres AS atas dirinya. Dua dakwaan tersebut membuat Presiden Trump dimakzulkan di DPR AS



Berbeda dengan DPR yang dikuasai Partai Demokrat selaku oposisi, Senat AS dikuasai oleh Partai Republik tempat Trump bernaung. Dari 100 kursi Senat, Partai Republik menguasai 53 kursi, dan untuk memakzulkan Trump dibutuhkan setidaknya 67 suara.

Melihat komposisi Senat AS tersebut, kecil kemungkinannya Trump akan lengser dari kursi AS 1. Tetapi tetap saja dinamika yang terjadi membuat gejolak di pasar. Emas sekali lagi bebal, masih saja belum mau beranjak dari rentang perdagangannya di pekan ini.


TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading