Transaksi Jumbo Saham CITA, Apakah Dibeli Glencore?

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
18 December 2019 18:58
Transaksi saham CITA di pasar negosiasi Rp 1,25 triliun hari ini kemungkinan dilakukan oleh pemegang saham pengendali pada Glencore.
Jakarta, CNBC Indonesia - Transaksi saham perusahaan penambang bauksit PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) dalam jumlah raksasa senilai Rp 1,25 triliun hari ini kemungkinan besar dilakukan oleh pemegang saham mayoritasnya kepada investor baru, Glencore International Investment.

Hari ini (18/12/19), saham perusahaan ditransaksikan di pasar negosiasi dengan jumlah jumbo, yaitu 606,73 juta saham pada harga Rp 2.076/saham. Harga transaksi perusahaan yang menggunakan merek dagang "Harita Bauxite" tersebut terhitung premium, atau lebih tinggi dari harga pasar, atau 15,33% di atas harga di pasar reguler hari ini Rp 1.800/unit.

Per September tahun ini, pemegang saham tambang bauksit tersebut terdiri dari PT Harita Jayaraya (Grup Harita) 90,96%, PT Suryaputra Inti Mulia 6,37%, dan publik 2,67%. Dengan porsi pemegang saham tersebut, besar kemungkinan penjualan dilakukan oleh Harita Jayaraya yang memiliki jumlah saham di atas 606,73 juta saham.


Transaksi itu juga diduga merupakan eksekusi pelepasan saham perseroan kepada investor baru yakni Glencore International Investment yang pernah diumumkan perseroan pada Agustus silam. Untuk pelepasan saham itu, perseroan sudah menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) akhir September dan mendapat restu pemegang saham.

Glencore International adalah perusahaan pedagang komoditas dan perusahaan tambang multinasional Inggris-Swiss yang berkantor pusat di Swiss. Perusahaan menempati posisi ke-10 berdasarkan daftar perusahaan terbesar dunia versi Fortune Global 500 pada 2015.

Selain penjualan saham ke Glencore, RUPSLB CITA juga menyetujui rencana perseroan menerbitkan maksimal 648,21 juta saham baru melalui mekanisme penawaran umum terbatas (PUT/rights issue) dalam rangka hak memesan efek terlebih dahulu. Kedua aksi korporasi yaitu penjualan saham CITA ke Glencore dan rights issue adalah dua hal berbeda.

Data transaksi di pasar hari ini menunjukkan ada dua kali transaksi saham CITA, yang sama-sama difasilitasi dua perusahaan efek serupa yaitu dijual oleh investor lokal melalui PT Harita Kencana Sekuritas dan dibeli investor asing melalui PT Citigroup Sekuritas Indonesia.

Harita Kencana Sekuritas juga diisi manajemen dari keluarga Lim, yang besar kemungkinan merupakan bagian dari perusahaan keluarga yaitu Grup Harita yang didirikan oleh Lim Gunawan Hariyanto. Lim Gunawan juga merupakan komisaris utama CITA.

Namun ketika dikonfirmasi terpisah, Direktur-Sekretaris Perusahaan CITA Yusak Lumba Pardede mengatakan pihaknya belum dapat berkomentar lebih jauh mengenai transaksi tersebut.

Menurut catatan Tim Riset CNBC Indonesia, transaksi pertama CITA di pasar negosiasi dilakukan sebanyak 282 saham seharga Rp 2.076/unit sehingga nilainya Rp 585.432 yang dieksekusi pada 10.09 WIB. Transaksi kedua pada 606,73 juta unit di harga yang sama yaitu Rp 2.076/saham. Total, nilai transaksinya mencapai Rp 1,25 triliun pada 10.12 WIB.

Pasar negosiasi adalah satu dari tiga ruang transaksi di bursa, di luar dua jenis transaksi lain yaitu pasar reguler (pasar biasa) dan pasar tunai. Transaksi besar di pasar negosiasi biasanya melibatkan pemilik atau pemegang saham besar yang tidak ingin merusak harga di pasar reguler.

Pasar negosiasi biasanya dimanfaatkan untuk transaksi dengan nilai saham tidak genap 1 lot serta transaksi balik nama yang sudah diselesaikan pembayarannya di luar bursa sehingga memungkinkan nilai transaksi tidak difasilitasi bursa.

Transaksi di pasar reguler merupakan transaksi yang dilakukan menggunakan mekanisme tawar-menawar berkelanjutan dan menjadi fasilitas bertransaksi dengan harga normal dan jumlah transaksi minimal 1 lot yang berisi 100 unit saham.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading