Ikuti Jejak Bursa Asia, IHSG ke Zona Merah

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
03 December 2019 12:42
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan kedua di bulan Desember, Selasa (3/12/2019), di zona merah.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG melemah 0,17% ke level 6.119,90. Namun kemudian, IHSG dengan cepat berbalik arah ke zona hijau. Titik tertinggi IHSG pada hari ini berada di level 6.148,37, mengimplikasikan kenaikan sebesar 0,3% jika dibandingkan dengan posisi pada saat penutupan perdagangan kemarin (2/12/2019).

Per akhir sesi satu, IHSG sudah kembali ke zona merah dengan koreksi sebesar 0,24% ke level 6.115,55. IHSG terlihat mulai kesulitan untuk menguat pasca sebelumnya sudah mencetak apresiasi selama dua hari beruntun.


Saham-saham yang berkontribusi signifikan dalam menekan kinerja IHSG di antaranya: PT Bank Central Asia Tbk/BBCA (-0,7%), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk/BBRI (-0,71%), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (-0,76%), PT Unilever Indonesia Tbk/UNVR (--0,88%), dan PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (-0,7%).

Kinerja IHSG pada hari ini senada dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang juga sedang bergerak di zona merah. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei turun 0,63%, indeks Shanghai melemah 0,11%, indeks Hang Seng jatuh 0,15%, indeks Straits Times terkoreksi 0,2%, dan indeks Kospi berkurang 0,42%.

Kesepakatan dagang AS-China yang semakin berwarna abu-abu menjadi faktor yang memantik aksi jual di bursa saham Benua Kuning. Kini, China sudah resmi menjatuhkan sanksi ke AS karena dianggap ikut campur soal demonstrasi yang terjadi di Hong Kong. Sanksi ini berlaku mulai hari Senin (2/12/2019).

China membatalkan kunjungan kapal perang AS dan memberi sanksi kepada lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) asal negeri Paman Sam.

"Sebagai respons dari kelakuan yang tidak berdasar dari AS, pemerintah China telah memutuskan tidak memberi izin pada kapal perang AS untuk berlabuh di Hong Kong," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hau Chunying, dikutip dari AFP.

Sebelumnya pada hari Rabu waktu setempat (27/11/2019), Trump resmi menandatangani dua RUU terkait demonstrasi di Hong Kong yang pada intinya memberikan dukungan bagi para demonstran di sana.

RUU pertama akan memberikan mandat bagi Kementerian Luar Negeri AS untuk melakukan penilaian terkait dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Hong Kong dalam mengatur wilayahnya sendiri. Jika China terlalu banyak mengintervensi Hong Kong sehingga membuat kekuasaan untuk mengatur wilayahnya sendiri menjadi lemah, status spesial yang kini diberikan oleh AS terhadap Hong Kong di bidang perdagangan bisa dicabut.

Untuk diketahui, status spesial yang dimaksud membebaskan Hong Kong dari bea masuk yang dibebankan oleh AS terhadap produk-produk impor asal China. RUU pertama tersebut juga membuka kemungkinan dikenakannya sanksi terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Hong Kong.

Sementara itu, RUU kedua akan melarang penjualan dari perlengkapan yang selama ini digunakan pihak kepolisian Hong Kong dalam menghadapi demonstran, gas air mata dan peluru karet misalnya.

Perkembangan tersebut lantas semakin membuat buram prospek ditekennya kesepakatan dagang AS-China. Pada akhir pekan kemarin, Global Times selaku media yang dimiliki oleh Partai Komunis China memberitakan bahwa prioritas utama dari Beijing adalah untuk mendorong AS menghapuskan bea masuk tambahan terhadap produk-produk impor asal China yang sudah dibebankan selama periode perang dagang kedua negara. Pemberitaan tersebut mengutip sumber-sumber yang mengetahui jalannya negosiasi dagang AS-China.

"Sumber-sumber yang mengetahui langsung jalannya negosiasi dagang AS-China memberitahu Global Times pada hari Sabtu (30/11/2019) bahwa AS harus menghapuskan bea masuk tambahan yang saat ini sudah dikenakan, bukan yang akan dikenakan, sebagai bagian dari kesepakatan (dagang tahap satu)," tulis pemberitaan Global Times, seperti dilansir dari CNBC International.

Jika kesepakatan dagang tahap satu gagal diteken, perputaran roda perekonomian AS dan China, berikut dengan perputaran roda perekonomian dunia, akan menjadi semakin lambat.
Rendahnya Inflasi Gaungkan Lemahnya Konsumsi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading