Internasional

Perang Dagang AS-China: Tak Ada Kesepakatan 'Fase Dua'

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
25 November 2019 16:51
Hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China semakin tidak jelas.
Jakarta, CNBC IndonesiaHubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China semakin tidak jelas. Hal ini dipertegas oleh para pejabat, anggota parlemen, dan pakar perdagangan dari kedua negara.

Mereka mengatakan bahwa kesepakatan dagang 'fase dua' antara kedua ekonomi terbesar di dunia itu sulit untuk terwujud, mengingat kesepakatan dagang 'fase satu' saja masih sulit untuk ditandatangani.


Sebelumnya pada Oktober lalu dalam konferensi pers dengan wakil perdana menteri China Liu He, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia berharap untuk segera memasuki pembicaraan mengenai kesepakatan dagang tahap kedua setelah 'tahap pertama' selesai.


Fase kedua akan fokus pada keluhan utama AS bahwa China secara efektif mencuri kekayaan intelektual AS dengan memaksa perusahaan asal Negeri Apel untuk mentransfer teknologi mereka ke saingan China mereka, kata Trump pada saat itu, seperti dikutip dari Reuters.

Namun pada kenyataannya, hingga saat ini kesepakatan dagang 'fase satu' belum berhasil ditandatangani. Mengutip laporan Reuters, ada berbagai alasan yang membuatnya belum juga disepakati. Di antaranya adalah masih adanya ketidaksepakatan antara AS-China mengenai beberapa hal dalam perdagangan, serta pemilihan umum AS yang akan diadakan pada 2020 mendatang.

China dikabarkan sengaja untuk menunda penandatanganan tarif, berharap Trump tidak akan kembali memenangkan kursi presiden pada tahun depan.

"Trump yang ingin menandatangani kesepakatan ini, bukan kami. Kami bisa menunggu," kata seorang pejabat China.

Perang dagang yang terjadi antara AS-China sudah berlangsung selama setahun terakhir. Dalam perang dagang, kedua negara telah saling menerapkan tarif hingga ratusan miliar dolar AS terhadap barang-barang satu sama lain. Tarif ini tidak hanya telah merugikan kedua negara, tapi juga telah menghambat pertumbuhan ekonomi global.

Perang dagang kedua negara juga cukup mempengaruhi pergerakan pasar saham. Oleh karenanya, berbagai pihak seperti pelaku pasar sangat mengantisipasi perkembangan baik dalam hubungan dagang AS-China.

Menanggapi kebuntuan ini, seorang pejabat dalam pemerintahan Trump mengatakan bahwa prioritas utama Trump saat ini adalah untuk memastikan kesepakatan fase satu yang besar, yang di dalamnya termasuk janji China untuk membeli lebih banyak produk pertanian AS. Pejabat itu mengatakan bahwa persetujuan dari China bisa menjadi amunisi Trump dalam memenangkan pemilu presiden pada 2020.


Setelahnya, Trump mungkin akan menyerahkan masalah perdagangan pada para pembantu seniornya, tambah pejabat itu. Jika demikian, pembahasan akan berlanjut ke topik seputar masalah pencurian kekayaan intelektual, militerisasi Laut China Selatan dan masalah hak asasi manusia (HAM).

[Gambas:Video CNBC]


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading