Tensi AS-China Naik Lagi, Harga Obligasi Kembali Terkoreksi

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
14 November 2019 20:29
Tensi AS-China Naik Lagi, Harga Obligasi Kembali Terkoreksi
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah terkoreksi tipis karena pelaku pasar keuangan masih dibayangi kekhawatiran memanasnya perang dagang yang kembali memanas antara Amerika Serikat (AS)-China.

Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain. Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan hasil investasi juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.


SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0079 yang bertenor 20 tahun dengan kenaikan yield 1,5 basis poin (bps) menjadi 7,65%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

 

Yield Obligasi Negara Acuan 14 Nov'19

Seri

Jatuh tempo

Yield 13 Nov'19 (%)

Yield 14 Nov'19 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar IBPA 14 Nov'19 (%)

FR0077

5 tahun

6.509

6.522

1.30

6.4577

FR0078

10 tahun

7.068

7.08

1.20

7.0617

FR0068

15 tahun

7.445

7.452

0.70

7.4209

FR0079

20 tahun

7.637

7.652

1.50

7.6227

Sumber: Refinitiv


Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini tidak tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih menguat. Indeks tersebut naik 0,04 poin (0,02%) menjadi 267,79 dari posisi kemarin 267,84.

Pelemahan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 523 bps, melebar dari posisi kemarin 519 bps. Yield US Treasury 10 tahun turun 2,8 bps hingga 1,84% dari posisi kemarin 1,86%.

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.069,21 triliun SBN, atau 39,1% dari total beredar Rp 2.734 triliun berdasarkan data per 13 November.

Angka kepemilikannya masih positif Rp 175,96 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. Sejak akhir pekan lalu, investor asing tercatat keluar dari pasar SUN senilai Rp 1,01 triliun, sedangkan sejak awal bulan masih surplus Rp 10,74 triliun.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan negara maju, mengalami kenaikan harga sehingga yield mayoritas obligasi negara turun.

Hal tersebut mencerminkan investor global sedang memburu obligasi pemerintah karena sedang dibekap sentimen negatif terkait dengan sifat instrumen utang yang dinilai lebih aman dibanding pasar ekuitas.

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 13 Nov'19 (%)

Yield 14 Nov'19 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil

6.71

6.525

-18.50

China

3.265

3.265

0.00

Jerman

-0.302

-0.326

-2.40

Prancis

0.009

-0.014

-2.30

Inggris

0.761

0.739

-2.20

India

6.528

6.516

-1.20

Jepang

-0.072

-0.068

0.40

Malaysia

3.446

3.446

0.00

Filipina

4.726

4.675

-5.10

Rusia

6.53

6.49

-4.00

Singapura

1.795

1.764

-3.10

Thailand

1.74

1.74

0.00

Amerika Serikat

1.869

1.841

-2.80

Afrika Selatan

8.457

8.42

-3.70

Sumber: Refinitiv

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading