Jajaki Freeport & Amman, BRMS Bakal Bangun Smelter

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
06 November 2019 13:02
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sedang menjajaki beberapa perusahaan tambang besar guna membangun smelter emas dan tembaga.
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten pertambangan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sedang menjajaki beberapa perusahaan tambang besar seperti PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara membangun smelter emas dan tembaga.

Direktur BRMS Muhammad Sulthon menyatakan, saat ini studi kelayakan sudah dilakukan. Pada prinsipnya, kerja sama tersebut sebagai keinginan dari pemerintah agar perusahaan yang memilki cadangan emas dan tembaga saling bekerja sama membuat smelter agar menghasilkan produk yang lebih memiliki nilai tambah.

"BRMS bersama perusahaan di bawah IMA (asosiasi perusahaan tambang) buat kesepakatan, jajaki Freeport, Amman Mineral membuat fasilitas pengolahan, tinggal masalah didirikan Kalimantan Sulawesi atau yang diminta pemerintah ke Sumbawa," kata Muhammad Sulthon, di Jakarta, Rabu (6/11/2019).




BRMS juga membuka peluang opsi joint venture terkait pengembangan smelter tersebut. Sulthon masih mengkalkulasi berapa investasi yang dibutuhkan untuk pendanaan smelter karena studi kelayakan belum rampung.

"Studi kelayakan sedang berlangsung, opsi joint venture sangat terbuka," lanjut dia.

Seperti diketahui, perseroan, melalui Gorontalo Minerals akan ikut serta dalam kerja sama tersebut. Saat ini, Gorontalo Minerals memiliki hak konsesi kontrak karya untuk pertambangan seluas 25 ribu hektare di Kabupaten Bone, Bolango, Gorontalo.

Melihat dari sisi kinerja BRMS, per September 2019 berhasil membukukan laba neto yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 1,01 juta atau setara dengan Rp 14,72 miliar (asumsi kurs Rp 14.000/US$).

Kinerja pada periode 9 bulan ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya di mana perusahaan tak mampu membukukan laba, kerugiannya pun mencapai US$ 93,95 juta.

Laba BRMS per September ini berhasil ditopang oleh peningkatan pendapatan yang naik tiga kali lipat menjadi US$ 3,46 juta (Rp 48,44 miliar) hingga kuartal ketiga tahun ini. Naik dari US$ 1,18 juta di akhir September 2018.



Perusahaan berhasil menurunkan beban usaha menjadi US$ 3,45 juta dari sebelumnya senilai US$ 4,42 juta. Selain itu, perusahaan juga tak lagi membukukan rugi pelepasan investasi seperti tahun lalu.

Meski demikian, perusahaan milik Grup Bakrie ini masih mengalami kerugian selisih kurs mencapai US$ 132.658.

[Gambas:Video CNBC]




Artikel Selanjutnya

Bayar Utang, BRMS Gelar Private Placement Rp 729 M


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading