Cetak Laba Q3, tapi Pelanggan EXCL kok Berkurang 1,1 Juta?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
05 November 2019 10:50
Laba bersih EXCL tercatat sebesar Rp 498,41 miliar per September 2019.

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten telekomunikasi, PT XL Axiata Tbk (EXCL) mencatatkan total jumlah pelanggan yang meningkat 2,9% atau 1,76 juta menjadi 55,5 juta pada 9 bulan pertama tahun ini atau per September 2019, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 53,9 juta pelanggan.

Namun dibandingkan dengan kuartal II-2019, jumlah pelanggan EXCL per kuartal III-2019 itu justru berkurang 1,1 juta karena pada kuartal II-2019, anak usaha Axiata Berhad Malaysia ini masih memiliki pelanggan mencapai 56,6 juta. Jumlah pelanggan pada kuartal II-2019 itu juga juga meningkat 7% dibandingkan dengan periode yang sama 2018.

Meski demikian, manajemen EXCL dalam keterangan resminya 
mengungkapkan bahwa di tengah ketatnya persaingan industri telekomunikasi dan data tahun ini, kinerja perseroan masih menunjukkan performa yang positif.


Mengacu laporan keuangan, EXCL
berhasil membukukan laba bersih pada 9 bulan pertama tahun ini setelah sempat menderita kerugian pada periode yang sama tahun lalu. La
ba bersih EXCL tercatat sebesar Rp 498,41 miliar per September 2019, membaik dari rugi bersih senilai Rp 144,81 miliar yang diderita per September 2018.

Laba bersih ini terjadi seiring dengan pendapatan XL yang berhasil naik 10,82% menjadi Rp 18,83 triliun, dari sebelumnya Rp 16,89 triliun.

Dari penjualan itu, pendapatan terbesar EXCL berasal dari pendapatan bisnis data yang naik 32% menjadi Rp Rp 14,20 triliun dari sebelumnya Rp 10,75 triliun.

Pendapatan terbesar kedua yakni dari
bisnis non-data sebesar Rp 2,86 triliun, kendati turun dari periode yang sama 2018 yakni Rp 3,99 triliun.


Pendapatan dari bisnis jasa interkoneksi juga turun menjadi Rp 854,08 miliar, dari sebelumnya Rp 994,98 miliar. Adapun pendapatan sewa menara juga terkoreksi menjadi Rp 229,56 miliar dari sebelumnya Rp 242,73 miliar.

Presiden Direktur XL Axiata, Dian Siswarini, mengatakan pendorong utama keberhasilan melakukan upselling pada pelanggan merupakan inisiatif perusahaan dalam menerapkan Customer Value Management yang berbasis analytics dengan memanfaatkan platform Omni Channel.

"Upaya ini termasuk di antaranya pemanfaatan digital IT dan data analytics untuk mengidentifikasi kebutuhan pelanggan, sehingga perusahaan bisa lebih mudah dalam menyediakan dan menawarkan layanan yang memang dibutuhkan setiap pelanggan," kata Dian, dalam keterangan resmi dikutip CNBC Indonesia, Selasa (5/11/2019).

"Kami juga memiliki inisiatif lanjutan yang sedang kami rencanakan untuk dapat meningkatkan dan memberikan layanan yang lebih baik bagi pelanggan," katanya lagi.

Dian menambahkan, bersama dengan penerapan strategi "
dual brand", investasi pada perluasan jaringan data ikut mendorong peningkatan penetrasi pengguna smartphone menjadi sekitar 86% atau 47,7 juta dari total pelanggan dan memperbesar kontribusi pendapatan dari layanan data menjadi 88% dari total pendapatan layanan perusahaan.

Selain itu jumlah pengguna data naik menjadi 88% YoY dari total pelanggan, 70% di antaranya menggunakan data 4G. Pencapaian tersebut menempatkan perusahaan pada posisi yang lebih kuat dalam menghadapi dampak terus menurunnya pendapatan dari layanan tradisional (voice and SMS).



"Total jumlah pelanggan meningkat menjadi 55,5 juta dari 53,9 juta di periode yang sama tahun sebelumnya," kata Dian.

Selain adanya kenaikan pendapatan, laba bersih juga terjadi di tengah upaya EXCL menekan beban perusahaan. Beban yang berhasil ditekan di antaranya beban penyusutan, beban interkoneksi dan beban langsung, beban amortisasi, dan adanya keuntungan selisih kurs.

Beban interkoneksi perseroan turun 18,43% menjadi Rp 1,46 triliun dari sebelumnya Rp 1,79 triliun. Beban penjualan dan pemasaran juga terpangkas menjadi Rp 1,44 triliun dari sebelumnya Rp 1,59 triliun, beban interkoneksi dan beban langsung juga ditekan menjadi Rp 1,46 triliun dari Rp 1,79 triliun.

Perseroan juga mencatat keuntungan selisih kurs Rp 54,16 miliar dari sebelumnya rugi kurs Rp 1,82 miliar.

Khusus kuartal III-2019, atau Juli-September, perseroan juga mencatat laba bersih Rp 216,01 miliar dari kuartal III-2018 yang masih merugi Rp 63,07 miliar. Pendapatan pada periode ini pun naik 10,42% menjadi Rp 6,46 triliun, dari sebelumnya Rp 5,85 triliun.

Adu kuat kinerja emiten telco

[Gambas:Video CNBC]

 


(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading