Terus Terkikis, Laba Q3-2019 Link Net Kembali Anjlok 8,69%

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
28 October 2019 16:05
Pemodal asing juga terlihat kompak melepaskan saham perusahaan dengan membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 166,34 juta.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten penyedia layanan internet dan TV kabel, PT Link Net Tbk (LINK) terlihat terperangkap di zona merah. Hingga pukul 15:05 WIB harga saham LINK mencatatkan pelemahan 1,65% ke level Rp 4.180/unit saham.

Pemodal asing juga terlihat kompak melepaskan saham perusahaan dengan membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 166,34 juta.

Aksi jual yang mendera LINK besar kemungkinan disebabkan oleh rilis laporan keuangan interim terbaru perusahaan, di mana pada kuartal III-2019 laba bersih perusahaan terkoreksi 8,69% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 245,54 miliar, dari sebelumnya Rp 268,91 miliar di kuartal III-2018.

Jika dilihat pertumbuhan secara kuartalan, laba yang dibukukan pada kuartal kemarin, turun 6,68% QoQ dibandingkan dengan kuartal II-2019 yang membukukan laba bersih sebesar Rp 263,11 miliar.


Lebih lanjut, secara total, yakni sepanjang 9 bulan pertama tahun 2019, maka laba bersih yang mampu dikantongi perusahaan mencapai Rp 772,86 miliar. Nilai tersebut turun 5,26% jika dibandingkan dengan perolehan laba pada periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 815,73 miliar.

Setelah ditelusuri secara rinci, kinerja laba LINK tertekan seiring dengan penurunan pada pos pendapatan, dan kenaikan pada pos beban penjualan serta beban umum (dan administrasi).

Total pendapatan perusahaan hingga akhir September 2019 terkoreksi tipis 0,99% YoY, dari Rp 2,79 triliun menjadi Rp 2,77 triliun. Akan tetapi, pada dasarnya, pos pemasukan utama perusahaan, yakni biaya berlangganan internet dan TV kabel keduanya mencatatkan pertumbuhan positif dengan naik masing-masing 4,14% YoY dan 1,44% YoY.

Koreksi pada pos pendapatan disebabkan penurunan dari penjualan lain-lain mencapai 44,23% YoY menjadi Rp 133,74 miliar.

Sementara itu, momok utama yang mengikis keuntungan LINK adalah peningkatan pada pos beban penjualan sebesar 27,18% YoY menjadi Rp 212,16 miliar dan kenaikan 4,58% YoY pada pos beban umum ke level Rp 969,17 miliar.

Kedua pos beban tersebut membukukan pertumbuhan positif disebabkan bertambahnya biaya karyawan. Pasalnya, sejak awal tahun hingga 30 September jumlah karyawan perusahaan mencapai 833 karyawan, di mana pada akhir Desember 2018 hanya 763 orang.

TIM RISET CNBC INDONESIA
Artikel Selanjutnya

Live Now! Bos Link Net Bicara Ketatnya Persaingan Digital


(dwa/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading