Bangkitkan Gairah di Bursa, APEI Sasar Investor Milenial

Market - Sandi Ferri, CNBC Indonesia
26 October 2019 19:50
Bangkitkan Gairah di Bursa, APEI Sasar Investor Milenial
JAKARTA, CNBC Indonesia - Dampak lesunya ekonomi global juga berpengaruh terhadap iklim investasi di pasar modal. Ketua Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Octavianus Budiyanto juga mengakui bahwa transaksi turun.

Namun, ada potensi besar untuk membangkitkan gairah Bursa Efek, yakni kehadiran investor muda. "Kalau kita lihat data angka transaksi harian itu, gak turun banyak dari tahun lalu, kurang lebih 7,5 T per hari rata-ratanya. Pengurangan ga begitu besar. Namun memang fakta ada aliran dana keluar," katanya kepada CNBC Indonesia TV.




Melihat banyaknya aliran dana yang keluar oleh investor asing, maka harapan penggerak ada di investor lokal. Meski kepemilikan didominasi asing dengan angka 60%, namun dari segi jumlah, investor lokal ternyata lebih banyak.

"Transaksi di BEI 60% lokal, 40 asing. Tapi peran invest lokal mulai diperhitungkan. Bagus ke depan karena kita punya populasi hingga 260 juta," sebut Octavianus.

Dari jumlah tersebut, investor yang sudah menanamkan modalnya berada di kisaran 1 juta investor saham. Namun, yang aktif baru berjumlah 100 ribu investor.

"Definisi aktif ini yang bertransaksi dalam satu bulan minimal 1 kali, ada 100 ribu (investor) yang aktif. Masih banyak memang, namun artinya Kita punya potensi untuk digali," jelasnya.



Salah satu caranya yakni dengan menarik perhatian investor yang tidak aktif untuk kembali aktif. Pun bagi yang belum menanamkan modal, menjadi lebih tertarik untuk ikut.

Generasi milenial pun disasar. Karena trennya yang cenderung tertarik adalah dari generasi ini.

"Dua tahun terakhir, pertumbuhan jumlah investor berusia hingga 30 tahun growthnya lebih tinggi dibanding usia diatasnya. Artinya mengarah ke milenial," kata Direktur Kresna Sekuritas ini.

Langkah yang sudah dilakukan yaitu dengan menyesuaikan layanan dari sekuritas dengan kebiasaan generasi milenial. Misalnya simplikasi kemudahan rekening, menggarap e proxy dan e voting saat rups.

"Kemudian saat penawaran umum, semua investor melalui perusahaan efeknya bisa memesan. Ga perlu antri ke bank. Ini antisipasi behavior generasi milenial yang dekat dengan gadget," jelasnya.

Di sisi lain, beberapa perusahaan yang akan melaksanakan IPO juga mundur. Salah satunya BNI Syariah yang memutuskan IPO menjadi tahun depan.

Ini menjadi sinyal jika iklim investasi belum sepenuhnya baik. Octavianus juga memperkirakan tidak akan ada perubahan berarti hingga akhir tahun mendatang.

Namun berbekal adanya kabinet baru, diharapkan membawa angin positif.

"Memberdayakan BUMN untuk IPO jadi harapan kita. Apalagi, Pak Erick Tohir beliau punya track record bagus, dalam media lalu sport. Transformasi swasta ke BUMN ini yang semoga bisa," paparnya.

[Gambas:Video CNBC]



(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading