Beban Pokok Penjualan Selangit, Laba INCO Ambles 100%

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
24 October 2019 17:50
Pasalnya, laba bersih perusahaan terperosok hampir dua kali lipat, yakni 99,71% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan tambang nikel terbesar Tanah Air, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan kinerja keuangan yang mengecewakan pada akhir kuartal III-2019. Pasalnya, laba bersih perusahaan terperosok hampir dua kali lipat, yakni 99,71% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Hingga akhir September 2019, total keuntungan yang dikantongi INCO hanya sebesar US$ 160 ribu atau setara Rp 2,27 miliar (asumsi kurs Rp 14.211/US$). Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba bersih perusahaan mencapai US$ 55,21 juta atau setara Rp 784,59 miliar.

Laba bersih perusahaan anjlok salah satunya diakibatkan oleh koreksi pada pos pendapatan yang tercatat turun 12,62% YoY, dari US$ 579,59 juta menjadi US$ 506,46 juta.

Padahal, melansir press release perusahaan, manajemen menyebutkan bahwa pada kuartal III-2019 penjualan nikel INCO meningkat.


"Volume penjualan kami terus meningkat di 3T19," ujar Nico Kanter, CEO dan Presiden Direktor INCO. Nico menambahkan perusahaan juga diuntungkan dari kenaikan harga nikel selama periode tersebut.

Untuk diketahui, penjualan INCO berdasarkan kontrak-kontrak penjualan 'harus ambil' jangka panjang dalam mata uang dolar AS, di mana harga ditentukan dengan formula yang didasarkan atas harga tunai nikel di LME dan harga realisasi rata-rata nikel induk usaha, Vale Canada Ltd (VCL).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penurunan penjualan per akhir September disebabkan oleh koreksi yang terjadi selama paruh pertama 2019 yang utamanya diakibatkan oleh anjloknya harga komoditas nikel. Sepanjang semester I-2019 rerata harga spot nikel di bursa LME turun 11,06% YoY.

Lebih lanjut, ruang gerak bottom line INCO tidak hanya tertekan oleh penurunan pemasukan, tapi juga tingginya beban pokok pendapatan.

Hingga akhir kuartal III-2019, proporsi beban pokok pendapatan terhadap total pendapatan tercatat mencapai 95,85% atau US$ 485,44 juta, dari sebelumnya hanya memiliki rasio 83,36%. Komponen pos beban pokok pendapatan dengan kontribusi terbesar di antaranya bahan bakar minyak & pelumas, depresiasi, bahan pembantu dan jasa kontraktor.

Tidak hanya itu, laba bersih perusahaan terkikis seiring dengan penurunan pada pos pendapatan lainnya yang pada periode ini hanya tercatat sebesar US$ 316 ribu, dari sebelumnya mencapai US$ 3,28 juta.

Alhasil, dengan pendapatan yang turun dan laba bersih yang terkoreksi lebih dalam mengakibatkan INCO hanya mampu mencatatkan marjin bersih di level 0,03% dari sebelumnya 9,53%.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(dwa/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading