Uji Nyali BI Jilid IV: Bunga Acuan Dipangkas Lagi? Apa Bisa?

Market - Putu Agus Pransuamitra & Anthony Kevin, CNBC Indonesia
24 October 2019 06:42
Tim Riset CNBC Indonesia akan memberikan proyeksi terkait dengan hasil dari RDG BI.

Dari dalam negeri, tantangan bagi BI jika ingin mengeksekusi pemangkasan suku bunga acuan lebih lanjut datang dari permasalahan defisit transaksi berjalan/current account deficit (CAD) yang masih panas.

Pada kuartal I-2019, BI mencatat CAD berada di level 2,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih dalam ketimbang CAD pada kuartal I-2018 yang berada di level 2,01% dari PDB. Kemudian pada kuartal II-2019, CAD membengkak menjadi 3,04% dari PDB. CAD pada tiga bulan kedua tahun ini juga lebih dalam ketimbang capaian pada periode yang sama tahun lalu di level 3,01% dari PDB.

Di kuartal III-2019, masih ada potensi bahwa CAD akan kembali bengkak. Sepanjang bulan Agustus, BPS mencatat bahwa ekspor jatuh 9,99% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih dalam dibandingkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan kontraksi sebesar 5,7% saja. Sementara itu, impor terkontraksi sebesar 15,6%, juga lebih dalam dibandingkan konsensus yang memperkirakan penurunan sebesar 11,295%. Alhasil, neraca dagang hanya membukukan surplus sebesar US$ 85 juta, jauh lebih kecil dari proyeksi yang sebesar US$ 146 juta.


[Gambas:Video CNBC]

 

Kemudian untuk periode September 2019, BPS mengumumkan bahwa ekspor jatuh sebesar 5,74% secara tahunan, sementara impor turun 2,41% YoY. Penurunan ekspor lebih rendah ketimbang konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan ekspor akan jatuh hingga 6,1% secara tahunan. Sementara itu, kontraksi pada pos impor lebih baik karena konsensus memperkirakan kontraksinya akan mencapai 4,5%.

Neraca dagang pada bulan lalu membukukan defisit senilai US$ 160 juta, berbanding terbalik dengan konsensus yang memperkirakan adanya kehadiran surplus senilai US$ 104,2 juta.

Dengan performa nearaca dagang yang belum menggembirakan, tentu potensi bahwa bahwa CAD akan kembali bengkak tak bisa diabaikan. Hal ini tentunya membatasi ruang bagi BI jika ingin memangkas tingkat suku bunga acuan lebih lanjut. Dikhawatirkan, dana investor asing yang diparkir di pasar modal Indonesia akan dibawa keluar jika BI kekeh memangkas tingkat suku bunga acuan.

Patut diingat bahwa mandat yang dimiliki BI adalah menjaga kestabilan harga di tanah air. Sejauh ini, jika melihat rendahnya tingkat inflasi, BI sukses menjalankan mandatnya.

Pada periode pertama pemerintahan Jokowi, inflasi berhasil dijinakkan. Sejak melesat naik ke leve 8,36% pada tahun 2014, inflasi berhasil terus ditekan. Dalam empat tahun terakhir atau pada periode 2015-2018, inflasi selalu dekat level 3%. Terakhir, inflasi di bulan September 2019 tercatat sebesar 3,39% secara tahunan.

Sementara jika melihat secara bulanan atau month-on-month (MoM), dalam tiga bulan terakhir inflasi terbilang sangat rendah. Berdasarkan data BPS, inflasi pada bulan Juli dan Agustus adalah masing-masing sebesar 0,31% MoM dan 0,12% MoM, sementara pada bulan September justru terjadi deflasi 0,27% MoM.

Jika ditotal, pada periode Juli-September 2019 atau pada kuartal III-2019, terjadi inflasi sebesar 0,16%. Memang angka tersebut menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan kuartal III-2018 yang sebesar 0,05%, tetapi jika melihat lima tahun ke belakang, inflasi tersebut menjadi yang terendah kedua untuk periode kuartal III.

Stabilitas rupiah menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjaganya harga barang dan jasa di tanah air. Sejak BI memangkas tingkat suku bunga acuan pada 19 September lalu hingga kemarin, rupiah terapresiasi 0,21% melawan dolar AS di pasar spot, performa yang cukup apik jika melihat kondisi global yang dipenuhi ketidakpastian. Perang dagang AS-China belum benar-benar berakhir, begitu juga perceraian Inggris dengan Uni Eropa atau Brexit yang masih tarik ulur.

Aliran modal investor asing ke pasar modal tanah air menjadi motor penguatan rupiah (yang pada akhirnya membuat inflasi menjadi terjaga). Terhitung sejak kali terakhir BI memangkas tingkat suku bunga acuan (19 September) hingga penutupan perdagangan hari Selasa (22/10/2019), investor asing telah membukukan jual bersih senilai Rp 6,2 triliun di pasar saham tanah air.

Namun, situasinya berbanding terbalik di pasar obligasi. Dalam periode 19 September hingga hari Selasa (22/10/2019), kepemilikan investor asing atas obligasi pemerintah yang bisa diperdagangkan naik hingga Rp 15,92 triliun menjadi Rp 1.039,55 triliun, dari yang sebelumnya Rp 1023,63 triliun.

Hal ini menunjukkan bahwa pemangkasan tingkat suku bunga oleh BI masih disambut baik oleh investor asing. Hal ini lantas membuka ruang bagi bank sentral untuk kembali memangkas tingkat suku bunga acuan. BI tak perlu kelewat takut bahwa akan ada aliran modal keluar dari pasar modal tanah air dalam jumlah besar yang sebenarnya bisa saja terjadi jika mengingat risiko bengkaknya CAD masih ada.

Dengan mencermati berbagai perkembangan yang ada yakni ruang pemangkasan tingkat suku bunga acuan oleh The Fed yang terbuka lebar, inflasi di tanah air yang terkendali, kinerja rupiah yang oke, serta derasnya aliran modal yang masuk ke pasar obligasi Indonesia, Tim Riset CNBC Indonesia meyakini bahwa Gubernur BI Perry Warjiyo dan koleganya di bank sentral akan mengumumkan pemangkasan tingkat suku bunga acuan pada hari ini, dengan besaran 25 bps.

Saat ini, perekonomian Indonesia jelas membutuhkan suntikan energi yang salah satunya bisa datang dari pemangkasan tingkat suku bunga acuan. Jika benar dieksekusi oleh BI, tentunya akan menjadi sentimen positif bagi perekonomian dan juga pasar keuangan tanah air.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ank/ank)
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading