Lengkap! Keputusan Rapat Dewan Gubernur BI November 2021

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
18 November 2021 17:50
Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan, Bulan November 2021. (Tangkapan Layar Youtube)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan tingkat suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate/BI7DRR sebesar 3,5% pada November 2021

BI juga memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility masing-masing sebesar 2,75% dan 4,25%.


Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan kebijakan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi ekonomi di global maupun domestik. Selain itu juga sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17-18 November 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7DRR sebesar 3,5%," jelas Perry dalam konferensi pers, Kamis (18/11/2021).

Kendati demikian, Perry mengatakan pemulihan ekonomi global masih akan dibayangi dengan gangguan rantai pasok dan keterbatasan energi. Dia menyatakan, pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS), China, dan Jepang melambat pada Kuartal III-2021.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi di Eropa tetap tinggi didorong oleh pembukaan ekonomi yang semakin luas. Memasuki Kuartal IV-2021, pemulihan ekonomi global diperkirakan terus berlangsung.

"Hal ini dikonfirmasi oleh berbagai indikator dini pada Oktober 2021, seperti Purchasing Managers' Index (PMI), keyakinan konsumen, dan penjualan ritel, termasuk mulai berkurangnya keterbatasan energi di Tiongkok," jelasnya.

Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2021 sekitar 5,7% dan tetap baik pada 2022.

Kenaikan volume perdagangan dan harga komoditas dunia masih berlanjut, sehingga menopang prospek ekspor negara berkembang.

"Ketidakpastian pasar keuangan global belum sepenuhnya mereda didorong kekhawatiran pengetatan kebijakan moneter global yang lebih cepat sejalan kenaikan inflasi yang terus berlangsung," jelasnya.

Perkembangan tersebut mengakibatkan terbatasnya aliran modal dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Sementara, perbaikan ekonomi domestik diperkirakan terus berlangsung secara bertahap," kata Perry melanjutkan.

BI optimistis perbaikan ekonomi domestik yang membaik, tercermin dari kenaikan indikator hingga awal November 2021 seperti mobilitas masyarakat, penjualan eceran, ekspektasi konsumen, PMI Manufaktur, serta realisasi ekspor dan impor.

Lebih lanjut, Perry mengatakan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat lebih tinggi pada tahun 2022, didorong pula oleh mobilitas yang terus meningkat sejalan dengan akselerasi vaksinasi, pembukaan sektor-sektor ekonomi yang lebih luas, dan stimulus kebijakan yang berlanjut.

Berikut upaya BI dalam mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional:

  1. Melanjutkan kebijakan nilai tukar Rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar;
  2. Melanjutkan penguatan strategi operasi moneter untuk memperkuat efektivitas stance kebijakan moneter akomodatif;
  3. Memperkuat kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan pendalaman analisis pada kelompok bank-bank terbesar yang memiliki pangsa kredit sekitar 70% dari industri (Lampiran);
  4. Mempertahankan kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS untuk merchant kategori Usaha Mikro (UMI) sebesar 0% sampai dengan 30 Juni 2022 untuk menjaga kesinambungan akseptasi dan penggunaan QRIS dengan tetap menjaga sustainabilitas industri;
  5. Memfasilitasi penyelenggaraan promosi perdagangan dan investasi serta melanjutkan sosialisasi penggunaan Local Currency Settlement (LCS) bekerja sama dengan instansi terkait. Pada November dan Desember 2021 akan diselenggarakan promosi investasi dan perdagangan di Jepang, Tiongkok, Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Brunei, dan Singapura.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Simak! Ramalan BI soal Ekonomi 2022 & Kebijakan Suku Bunga


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading