Oktober, BI Diprediksi Pangkas Bunga Acuan 25 bps

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
18 October 2019 08:29
Oktober, BI Diprediksi Pangkas Bunga Acuan 25 bps
Bali, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis point (bps) pada kuartal-IV 2019 guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas rupiah terhadap kurs dolar Amerika Serikat (AS).

BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu-Kamis 23-24 Oktober mendatang guna memutuskan level suku bunga. Tahun ini BI sudah menurunkan tiga kali suku bunga acuan yakni di level 5,75% pada 18 Juli, 5,50% pada 22 Agustus dan 5,25% pada 19 September silam.

Kepala Ekonom DBS Indonesia Masyita Crystallin mengatakan prediksi kebijakan BI tersebut sejalan dengan kondisi ekonomi makro di Indonesia yang terjadi saat ini. Indonesia masih mencatat defisit perdagangan pada September lalu sebesar US$ 161 juta, karena kegiatan ekspor dan impor terus berfluktuasi. 



"Ekspor dan impor berkontraksi sebesar 5,7& YoY [year on year] dan 2,4% pada September. Memandang angka-angka yang lemah belakangan ini, pertumbuhan ekspor dan impor bisa jadi telah mencapai titik terendah," kata Masyita dalam risetnya diterima CNBC Indonesia, Jumat (18/10/2019).

Data BPS mencatat, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$160 juta pada September 2019. Posisi ini berbanding terbalik dari kondisi Agustus 2019 yang surplus US$80 juta.

Jika diakumulasikan, maka defisit neraca perdagangan Januari-September 2019 mencapai US$ 1,95 miliar. Realisasi defisit ini lebih rendah ketimbang periode Januari-September 2019 yang masih mencapai US$ 3,78 miliar.

Foto: Kepala Ekonom Bank DBS Indonesia Masyita Crystallin
Masyita mengatakan data itu mencerminkan penurunan impor lebih cepat dari penurunan ekspor pada periode yang sama. Penurunan impor mencapai 9,1% dan penurunan ekspor mencapai 8%. 

Neraca perdagangan, lanjut Masyita diperkirakan cenderung berfluktuasi antara surplus dan defisit dalam kisaran kurang lebih US$ 500 juta dalam beberapa bulan mendatang.

"Ekspor dan impor diperkirakan masih lemah. Ekspor akan terus terbebani oleh perlambatan global. Impor akan terjaga relatif rendah karena investor menunggu pemerintah baru yang akan dilantik akhir bulan ini," kata dia.

Kendati demikian, dampak dari perlambatan global dari sisi volume ekspor sebenarnya meningkat 7,5% (yoy) pada Januari-September. Sebaliknya volume impor justru mengalami penurunan mencapai 4,1%.


Selain itu juga, Masyita mengatakan bahwa dengan adanya perlambatan aktivitas investasi secara keseluruhan, penurunan impor kemungkinan akan berlanjut.

"Investasi pemerintah telah melambat karena lebih banyak proyek yang diselesaikan daripada proyek baru yang dimulai. Investasi swasta sudah tidak terlalu aktif, namun harus segera dimulai setelah Presiden dan Wakil Presiden dilantik pada akhir bulan ini. Perlambatan pada impor bersifat umum, ketiga kategori; barang konsumsi, bahan mentah dan barang modal [akan] berkontraksi," jelas Masyita.

"Dengan fokus BI diseimbangkan antara mendukung pertumbuhan dan menjaga stabilitas rupiah, kami memperkirakan akan ada pemotongan suku bunga 25 bps pada 4Q19 [Kuartal IV-2019], yang kemungkinan dapat segera terjadi dalam bulan ini," kata Masyita.

Pada RDG 18-19 September lalu,BI memutuskan untuk menurunkan BI7DRR sebesar 25 bps menjadi 5,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,00%.

Menurut BI, kebijakan tersebut konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah di bawah titik tengah sasaran dan imbal hasil investasi aset keuangan domestik yang tetap menarik, serta sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat.

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading