Internasional

Analis: Suku Bunga Rendah Bisa Hancurkan Ekonomi Global

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
17 October 2019 16:44
Suku bungan nol atau negatif tak selamanya baik untuk pertumbuhan ekonomi
Jakarta, CNBC Indonesia - Analis Yuwa Hedrick-Wong mengatakan suku bunga nol atau negatif akan berdampak "kerusakan luar biasa" pada ekonomi dalam jangka panjang. Hal itu ia sampaikan saat bank sentral berbagai negara banyak yang melakukan pemangkasan suku bunga, hingga menetapkan suku bunga negatif.

"Tren suku bunga nol adalah sesat dan dapat meracuni lingkungan bisnis," kata Hedrick-Wong, yang adalah seorang visiting scholar di Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew sebagaimana dikutip dari CNBC International.




Suku bunga rendah akan merugikan lembaga pemberi pinjaman karena dapat mempersempit margin yang bisa didapat bank. Sementara itu saat suku bunga sudah negatif, menurunkannya lebih dalam berarti pemberi pinjaman harus membayar lebih kepada bank sentral untuk menyimpan kelebihan dana overnight mereka.

"Saya seorang yang percaya bahwa suku bunga nol, atau suku bunga negatif sebenarnya membuat kerusakan luar biasa pada ekonomi dalam jangka panjang. Pertama-tama, suku bunga nol meracuni lingkungan perusahaan bisnis," kata Hedrick-Wong di Konferensi CEO Global Forbes di Singapura.

"Kita harus membalik proses itu. Normalisasi suku bunga harus menjadi prioritas utama dalam mengelola ekonomi ke depan," tambah Hedrick-Wong. "Kecanduan suku bunga rendah ... itulah masalahnya, bukan solusinya."

Salah satu bank sentral yang menurunkan suku bunga adalah The Federal Reserve. Pada bulan Juli, The Fed memotong suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2008 saat krisis keuangan besar terjadi. Fed kembali memangkas suku bunga untuk kedua kalinya pada bulan September, menurunkan suku bunga overnight dalam kisaran target dari 1,75% hingga 2%.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kerap kali meminta Fed untuk menurunkan suku bunga, bahkan meminta untuk memangkasnya menjadi nol atau negatif. Ia juga suka memuji Jerman yang menetapkan suku bunga negatif pada obligasi pemerintahnnya.



Bank-bank Eropa juga telah menerapkan suku bunga rendah selama bertahun-tahun. Bank Sentral Eropa pertama kali menetapkan suku bunga nol pada 2012 sebelum menuju ke negatif pada 2014. Bank Sentral Eropa (ECB) semakin dalam memangkas suku bunganya ke wilayah negatif pada bulan September. Bank sentral negara lain, termasuk Denmark, Swedia dan Jepang juga telah menetapkan suku bunga negatif.

Meski yakin suku bunga rendah dapat menimbulkan masalah, Hedrick-Wong memperkirakan Federal Reserve yang dipimpin Jerome Powell akan terus memangkas suku bunga di tengah kekhawatiran perlambatan pertumbuhan global dan ketidakpastian Brexit serta perang dagang.

Sejalan dengan Hedrick-Wong, kepala ekonom di Moody's Analytics Mark Zandi juga memproyeksikan Fed bakal memangkas suku bunga lagi.

"Jika perang dagang meningkat, jika Brexit menjadi kurang meyakinkan, maka saya pikir The Fed akan menurunkan suku bunga lebih banyak. Bahkan, mungkin ke titik nol," katanya.

"Kami juga berbicara tentang suku bunga negatif di Amerika Serikat juga. Jadi jika itu terjadi (suku bunga AS negatif), tentu saja, itu adalah resesi," kata Zandi.

Sementara menurut profesor Cornell University Eswar Prasad, memangkas suku bunga ke level rendah atau negatif bisa membuat kebijakan moneter menjadi kurang efektif dalam mendukung pertumbuhan. Oleh karenanya, pemerintah harus lebih seimbang dalam memasukkan stimulus fiskal.

"Ketergantungan yang terus-menerus pada suku bunga kebijakan ultra-rendah atau negatif membuat sistem keuangan semakin rentan dan hanya memiliki sedikit dampak positif pada pertumbuhan," tulisnya dalam komentarnya minggu ini.



(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading