Internasional

Survey Moodys: Trump Bakal Menang Lagi di Pilpres 2020

Market - Sefti Oktarianisa, CNBC Indonesia
16 October 2019 07:39
Survey Moodys: Trump Bakal Menang Lagi di Pilpres 2020
Jakarta, CNBC Indonesia- Moody's Analytics memperkirakan Presiden AS Donald Trump akan meraih kembali kemenangan dalam Pemilihan Presiden 2020.

Kecuali hal tak biasa terjadi, Ia bisa kembali meraih kemenangan elektoral dengan mudah. Bahkan di atas kemenangan yang terjadi atas Hillary Clinton.




Berbeda dengan Indonesia di mana pemilihan presiden hanya terjadi sekali dengan pemilihan langsung oleh rakyat, di AS pemilihan presiden melalui beberapa tahapan.

Capres dengan suara rakyat mayoritas belum tentu menang. Ia harus melewati proses electoral college di mana sejumlah negara bagian menunjuk utusan untuk memilih presiden usai popular vote digelar.

Untuk menang, kandidat Capres harus mengamankan setidaknya 270 suara, dari total 538 suara.

Proyeksi Moody's berdasarkan pada bagaimana perasaan konsumen tentang situasi keuangan mereka, keuntungan di pasar saham selama Trump berkuasa, dan data pengangguran AS.

Jika variabel-variable itu bertahan, Trump kemungkinan bisa kembali lagi menjabat selama 4 tahun sebagai presiden AS.

"Jika ekonomi sethun dari sekarang sama dengan saat ini atau kira-kira begini, maka kekuatan incumbent kuat dan peluang pemilihan Trump akan sangat bagus. Terutama jika (pendukung) Demokrat tidak antusias dan memutuskan untuk tidak memilih," kata Kepala Ekonom Moodys's Analytics Mark Zandi dikutip dari CNBC International, Rabu (16/10/2019).

"Ini tentang jumlah pemilih," ujarnya lagi menjelaskan penelitian yang dilakukan bersama Direktur Penelitian Kebijakan dan Fiskal Pemerintah Dan White dan Asisten Direktur dan Ekonom Moody's Analytics Bernard Yaros.

Tiga model survei menunjukkan Trump akan mendapatkan setidaknya 289 suara elektoral. Peluangnya berkurang jika jumlah pemilih maksimum dari pihak Demokrat meningkat.

Model pertama, survei ini mengukur bagaimana perasaan orang-orang tentang keuangan mereka. Dari skenario ini, dengan asumsi rata-rata jumlah orang yang tidak memiliki hak pilih, Trump akan memperoleh 351 suara sedangkan Demokrat hanya 187.



Dalam model kedua, terkait pasar saham, Trump mendapat keunggulan 289 vs 249. Sementara model pengangguran Trump menang 332 vs 249.

"Ini menunjukkan pentingnya sentimen ekonomi di level rumah tangga bisa menggiring pemilihan (presiden) berikutnya," tulis laporan itu lagi.

Dikatakannya pasar modal juga menjadi kunci. Koreksi di pasar modal, misalnya hingga 12%, menjelang pemilu bisa sangat mempengaruhi perlombaan. Atau penurunan ekonomi tak terduga.

Hasil Moody's Analytics cukup mengejutkan. Mengingat dalam beberapa survei, Trump dikabarkan akan kalah dengan Demokrat.

Model survei yang dilakukan Moody's telah teruji di AS sejak 1980. Dari semua survei yang dilakukan, lembaga ini hanya sekali salah menebak, di tahun 2016 soal Clinton dan kemenangan Trump.

Moody's memasukkan pola partisipasi tak terduga dalam kemenangan Trump. Moody's juga menekankan akan mempengaruhi proyeksi dengan melihat perkembangan yang terjadi.


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading