Internasional

Nggak 'Cinta' Lagi, AS Resmi Sanksi Ekonomi Turki

News - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
15 October 2019 08:08
Nggak 'Cinta' Lagi, AS Resmi Sanksi Ekonomi Turki
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang memberi sanksi ekonomi ke Turki. Sanksi tersebut berupa naiknya tarif baja Turki hingga 50% dan penghentian negosiasi perdagangan yang tengah berlangsung dengan negara itu.

Trump telah mengumumkan perintah tersebut dalam sebuah pernyataan panjang yang ia unggah ke Twitter pada Senin sore.


"Perintah ini akan memungkinkan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi tambahan yang kuat terhadap mereka yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia yang serius, menghalangi gencatan senjata, mencegah orang-orang terlantar untuk kembali ke rumah, secara paksa memulangkan para pengungsi, atau mengancam perdamaian, keamanan, atau stabilitas di Suriah," ujar Trump, sebagaimana dilansir dari CNBC Internasional, Selasa (15/10/2019).

Langkah ini sekaligus menjadi bantahan Trump atas pernyataan Juru Bicara Kurdi yang merasa ditinggalkan AS. Padahal Kurdi sudah membantu AS untuk menghancurkan ISIS.

"AS meninggalkan kami untuk dibantai Turki," kata Jubir Kurdi.

Sesaat sebelum mengumumkan sanksi dan kenaikan tarif, Trump juga menulis di tweetnya bahwa "Siapa pun yang ingin membantu Suriah melindungi Kurdi, (adalah hal) baik bagi saya, apakah itu Rusia, China, atau Napoleon Bonaparte".

"Saya harap mereka semua melakukan yang terbaik," kata Trump. "Kami berada 7.000 mil jauhnya!"

Sebelumnya hubungan AS dan Turki sempat mesra. Pada Mei, AS mengurangi separuh tarif impor baja Turki hingga 25%. Bahkan, Trump menaikkan status perdagangan preferensial yang ada dengan negara itu.




Serangan Turki ke kelompok Kurdi dilakukan persis setelah AS menarik tentara dari wilayah Suriah sejak Rabu lalu. Trump menarik tentara untuk menepati janji soal kedamaian di Timur Tengah.

"Ini tidak dibenarkan secara hukum dan tidak beralasan menyerang teman dan mitra AS (Kurdi), yang mengancam kehidupan dan mata pencarian jutaan warga sipil di sana," tulis pernyataan senator AS.

Eropa pun secara resmi melakukan embargo pada Turki. Prancis dan Jerman bahkan menghentikan ekspor senjata negara tersebut ke Turki.

Bahkan dalam komunikasinya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan tindakan Turki bisa men-destabilisasi kawasan Timur Tengah dan mengarah pada kebangkitan ISIS.

Sementara itu, Erdogan mengatakan bahwa ancaman sanksi dan embargo senjata oleh Barat tidak akan menghentikan serangan militer Turki terhadap militan Kurdi di Suriah.

"Setelah kami meluncurkan operasi kami, kami menghadapi ancaman seperti sanksi ekonomi dan embargo penjualan senjata. Mereka yang berpikir mereka dapat membuat Turki kembali dengan ancaman ini sangat keliru," kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi dikutip dari AFP.

Turki melihat pejuang Turki sebagai teroris dan pemberontak. Masalah keduanya sudah terjadi sejak 3 dekade lalu.

"Saya mengatakan kepadanya untuk menjelaskan kepada saya. Apakah kita benar-benar sekutu di NATO atau YPG (Kurdi) yang diterima NATO tanpa pemberitahuan ke saya," kata Erdogan seraya menceritakan pembicaraan teleponnya dengan Kanselir Jerman.

Ia pun menolak mediasi yang diusulkan barat. Ia mengatakan militer Turki dan proksi di Suriah sudah menguasai kota perbatasan Ras al-Ain dan Tal Abyad.

[Gambas:Video CNBC]



(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading