China Galau Teken Kesepakatan, Bursa Asia Dibuka Variatif

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
15 October 2019 09:29
China Galau Teken Kesepakatan, Bursa Asia Dibuka Variatif
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama kawasan Asia dibuka bervariatif pada perdagangan hari ini (15/10/2019) seiring dengan sikap waspada pelaku pasar yang mulai ragu tentang kesepakatan fase pertama yang telah dicapai oleh Amerika Serikat (AS) dan China.

Indeks Nikkei dibuka melesat 1,21%, indeks Hang Seng menguat 0,33%, indeks Straits Times naik tipis 0,06%. Sedangkan indeks Kospi dan Shanghai masing-masing dibuka melemah 0,07% dan 0,13%.

Seperti diketahui, pada penutupan perdagangan kemarin (14/10/2019) bursa saham utama Benua Kuning kompak finis di zona hijau karena menyambut positif hasil dialog dagang yang berlangsung pekan lalu di Washington.


Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington dan Beijing telah menyepakati "kesepakatan fase pertama yang sangat substansial" dan rincian teks perjanjian akan dirilis setidaknya dalam tiga minggu ke depan, dilansir dari CNBC International.

Negeri Paman Sam juga menyampaikan pihaknya setuju untuk menunda rencana pemberlakuan kenaikan tarif bea masuk produk China senilai US$ 250 miliar dari 25% menjadi 30%, yang seyogianya efektif per 15 Oktober.

Namun, investor kembali dibuat cemas setelah pihak Negeri Tiongkok dikabarkan belum setuju 100% pada hasil negosiasi perdagangan dengan AS, yang diklaim Presiden AS Donald Trump sebagai sebuah keberhasilan.

Sebagaimana dikutip dari Bloomberg, China masih menginginkan adanya putaran pembicaraan selanjutnya, sebelum Presiden Xi Jinping menandatangani fase pertama kesepakatan.

Lebih lanjut, Bloomberg memberitakan bahwa pejabat China menginginkan dialog lebih lanjut di akhir Oktober untuk membahas rincian teks perjanjian kesepakatan fase pertama tersebut. Salah seorang sumber lain kemudian menyampaikan bahwa China juga ingin AS untuk membatalkan rencana kenaikan tarif pada 15 Desember mendatang.

Lebih lanjut, sejatinya banyak analis skeptis bahwa perjanjian kali ini benar-benar akan berbuah manis. Pasalnya, sebelumnya setelah diinfokan rujuk, kedua belah pihak kembali berseteru.

"Pertama, menyusun (teks) perjanjian bisa menjadi proses yang rumit. Pembatalan mendadak negosiasi pada April-Mei adalah salah satu contoh bahwa resiko itu ada," tulis catatan riset ekonomi ANZ, dilansir CNBC International.

Investor kembali diliputi kecemasan bahwa ekskalasi perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia masih sangat mungkin terjadi.

TIM RISET CNBC INDONESIA (dwa/dwa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading