Djarum Sudah Robotisasi, HM Sampoerna Apa Kabar?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
11 October 2019 15:28
Djarum Sudah Robotisasi, HM Sampoerna Apa Kabar?

Jakarta, CNBC Indonesia - PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) menegaskan bahwa manajemen terus berkomitmen menjaga kelangsungan penyerapan tenaga kerja dalam industri hasil tembakau, termasuk pekerja, petani tembakau dan cengkeh serta pengecer di tengah isu yang mengemuka soal robotisasi.

Head of Corporate Communications HMSP Inasanti Susanto mengatakan p
enggunaan mesin dalam proses produksi sigaret buatan mesin tidak menggantikan peran tenaga kerja. Namun dia tidak menjelaskan seberapa besar penggunaan robotisasi yang dimanfaatkan oleh anak usaha Philip Morris International ini. Ia tak membantah bahwa perseroan sudah melakukan robotisasi.

"Kami berkomitmen untuk selalu berupaya menjaga kelangsungan penyerapan tenaga kerja dalam industri hasil tembakau, termasuk pekerja, petani tembakau dan cengkeh serta pengecer," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (11/10/2019).



Mengacu laporan keuangan Juni 2019, jumlah karyawan tetap Sampoerna sudah berkurang hingga 771 orang dari 25.943 orang pada Desember tahun lalu menjadi 25.172 orang pada semester I-2019. Jumlah berkurang drastis dalam enam bulan.

Selain Sampoerna, raksasa rokok lainnya yakni PT Djarum juga mengakui menggunakan robot atau robotisasi dalam proses produksi rokok di pabrik mereka di Kudus, Jawa Tengah. Hal ini menjadi bagian untuk mengikuti perkembangan teknologi.

Ketika ditanya penggunaan robot apakah memangkas atau efisiensi tenaga kerja di pabrik Djarum, manajemen perseroan menegaskan tidak signifikan dalam hal efisiensi.

"Robot-nya, ada. Tidak banyak. Hal itu dibutuhkan untuk mengikuti perkembangan teknologi. Jadi tidak signifikan dalam efisiensi tenaga kerja," kata Senior Manager Corporate Communications Djarum Budi Darmawan kepada CNBC Indonesia, Kamis (10/10).


Ia bilang penggunaan robot di pabrik rokok Djarum hanya berada di satu lokasi, penggunaannya tidak masif pada bagian proses produksi rokok. Namun, yang tak diduga, pemakaian robot sudah berlangsung sejak empat tahun lalu, atau lebih cepat dari informasi yang disampaikan oleh Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri).

Robotisasi sempat menjadi kekhawatiran para serikat pekerja di Indonesia. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memperkirakan akan ada 30% pekerja akan kena PHK dalam 3-5 tahun akibat robotisasi.

Menurut Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Sudarto, selama 5 tahun terakhir ini sudah ada lebih dari 32.000 karyawan industri hasil tembakau yang kena PHK. Namun, tak dijelaskan faktor penyebab utamanya, yang pasti industri rokok saban tahun dihajar oleh persoalan kenaikan cukai yang menuntut efisiensi di industri.


Dalam laporan McKinsey, lembaga ini memprediksi tahun 2030 akan ada 23 juta
pekerjaan yang hilang karena digantikan otomasi. Hal ini terungkap dalam laporan berjudul 'Otomasi dan masa depan pekerja Indonesia: Pekerjaan yang hilang, muncul dan berubah'.

Associate Partner McKinsey & Company Southeast Asia, Vivek Lath mengatakan pekerjaan yang akan hilang dan digantikan oleh otomasi adalah yang bersifat repetisi atau berulang-ulang.


(tas/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading