Peringkat Daya Saing RI Amblas, Begini Efeknya ke Pasar Saham

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
10 October 2019 15:13
Peringkat Daya Saing RI Amblas, Begini Efeknya ke Pasar Saham Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya melemah tipis pada perdagangan sesi II Kamis ini (10/10/2019) minus 0,00% di level 6.028,68. Bahkan sempat di level paling rendah hari ini yakni 6.023 setelah mendapat sentimen turunnya peringkat daya saing Indonesia.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan, pada pukul 15.56 WIB, IHSG kemudian bangkit dengan menguat 0,04% di level 6.031 bersamaan dengan positifnya bursa Asia baik Hang Seng Hong Kong (0,06%), Nikkei 225 Jepang (0,45%) dan Shanghai (0.78%).

Hari ini tekanan jual asing masih tinggi hampir mencapai setengah triliun alias Rp 498,73 miliar di semua pasar. Secara year to date, asing sudah keluar dari pasar saham RI mencapai Rp 17,26 triliun.


Sentimen negatif pekan ini yakni laporan terbaru Global Competitiveness Report 2019 yang dirilis World Economic Forum (WEF) yang menyebutkan, peringkat daya saing Indonesia turun ke posisi 50 dari 140 negara.


Mengacu laporan yang dipublikasikan WEF, peringkat daya saing Indonesia lebih rendah dari Singapura, Malaysia dan Thailand. Dari 12 indikator acuan yang diukur, Indonesia hanya mendapat nilai sebesar 64,6 atau 0,3 dibanding 2018. Sementara Singapura memperoleh nilai 84,8, Malaysia 74,6 dan Thailand 68,1.

Pelaku pasar pun mendesak, perbaikan regulasi menjadi kunci agar daya saing RI kembali kompetitif.


Ketua Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), Octavianus Budiyanto berpendapat, turunnya peringkat daya saing menjadi tugas kabinet baru untuk membenahi regulasi yang harmonis antara pemerintah pusat dan daerah.

Selain itu, Direktur Utama Kresna Sekuritas ini menyebut, produktivitas dari sisi tenaga kerja harus meningkat agar mampu bersaing dengan Thailand atau Malaysia.

"Ini harus menjadi perhatian kabinet baru beserta jajarannya bagaimana membuat ijin yang mudah, tidak tumpang tindih antar instansi atau pusat dan daerah," kata Oky, sapaan akrabnya, saat dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (10/10/2019).


Kalangan pelaku pasar juga merespons positif inisiasi pemerintah membuat terobosan untuk menyederhanakan proses perizinan investasi melalui satu regulasi yakni UU Omnibus Law. Konsep omnibus law adalah undang-undang yang dibuat secara lintas undang-undang sektoral untuk mencabut berbagai ketentuan dari sektor-sektor tersebut.

Omnibus law juga memungkinkan pemerintah membatalkan ketentuan di sejumlah UU. Aturan ini dianggap cara paling efektif mengatasi soal kendala perizinan.

"Omnibus law dibuat untuk menghilangkan semua hambatan perizinan investasi," kata Oky menambahkan.

Lagi, Hambatan Regulasi
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara mengemukakan, salah satu yang menjadi masalah daya saing Indonesia tertinggal dari negara lain karena komponen pelayanan publik atau public sector performance turun skornya ke 54.6.

Bhima melanjutkan, kondisi tersebut mengindikasikan adanya hambatan regulasi jadi masalah struktural yang belum dibenahi secara serius.

"OSS [Online Single Submission] misalnya belum sinkron dengan perizinan daerah, koordinasi antar kementerian juga bermasalah," kata Bhima, kepada CNBC Indonesia, Kamis (10/10/2019).

Untuk meningkatkan daya saing, kualitas sumber daya manusia Indonesia juga harus ditingkatkan. Dengan skor 64, kata Bhima, artinya skill SDM Indonesia masih tertinggal untuk bersaing di era digital.

Selain itu, masifnya pemerintah membangun infrastruktur juga belum mengerek daya saing, justru skornya turun ke 79,4 karena akses air bersih yang belum merata di seluruh Indonesia.

Dengan daya saing yang rendah, bukan tidak mungkin potensi investasi ke Indonesia melambat karena investor lebih melihat negara lain yang lebih kompetitif. "Dengan peringkat daya saing yang turun, investasi asing makin enggan berinvestasi ke Indonesia," tandasnya.

Ini tanggapan JK soal merosotnya daya saing

[Gambas:Video CNBC]

 

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading