IPO Lion Air: Akankah Emisi Besar Mampu Diserap Pasar?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
10 October 2019 08:33
IPO Lion Air: Akankah Emisi Besar Mampu Diserap Pasar?

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan perusahaan operator maskapai penerbangan milik Rusdi Kirana, Lion Air bakal melantai di bursa pada tahun ini. Lion Air akan memaparkan rencana perseroan menjadi perusahaan publik dalam gelaran mini expose pada pekan depan.

Lion Air sudah masuk dalam daftar tunggu perusahaan (pipeline) yang bakal menggelar penawaran perdana saham (initial public offering/IPO) tahun ini menggunakan laporan keuangan Juni 2019.

Langkah berani maskapai berlogo singa merah ini direspons cukup beragam kalangan pelaku pasar. Musababnya, nilai emisi yang ditargetkan cukup besar. Bloomberg mewartakan, nilainya bahkan diperkirakan mencapai US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun.


Ini ini dinilai berani di tengah industri maskapai penerbangan yang saat ini terbilang sangat berat. Banyak tantangan yang menghadapi industri penerbangan nasional seperti volatilitas harga minyak mentah dunia yang memicu kenaikan harga avtur.


Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada berpendapat, saat ini biaya bahan bakar menjadi salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya operasional maskapai.

Selain itu, maskapai juga punya tantangan untuk meningkatkan jumlah kapasitas penumpang dan rute penerbangan dan dari kebijakan tarif tiket pesawat domestik.

"Industri penerbangan tidak terlepas dari fluktuasi harga minyak mentah, kita lihat biaya tinggi maskapai ada di bahan bakar," kata Reza saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu kemarin (9/10/2019).


Manajemen Lion Air, belum memberikan keterangan lebih lanjut berapa dana yang ditargetkan yang dihimpun dari aksi korporasi ini, pun termasuk potensi dana IPO Lion Air yang dikabarkan Bloomberg sekitar US$ 1 miliar itu.

"Mengenai hal itu, saya belum bisa memberikan keterangan dulu, jika ada info, kami kabari," kata Danang Mandala, Corporate Communications Strategic Lion Air Group, saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (9/10/2019).

Kepala Riset PT Samuel Sekuritas, Suria Dharma berpendapat, di tengah volatilitas dan kondisi pasar seperti sekarang, target Rp 14 triliun untuk emisi akan sulit dicapai. Mengingat, saat ini, pesaing Lion, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang sudah lebih dulu IPO, nilai kapitalisasi pasar atau market cap baru Rp 13 triliun.

Ia juga menyangsikan, target emisi itu akan tercapai. "Logikanya kan IPO hanya sebagian kecil yang ditawarkan. Misal 20%, kalau nilainya Rp 14 triliun berarti nilai perusahaannya beberapa kali nilai emisinya. Sepertinya tidak sebesar itu size Lion," kata Suria kepada CNBC Indonesia, Rabu (9/10/2019).

Menurut Suria, dengan melantai di pasar saham, tidak menjadi jaminan saham Lion Air ke depan akan likuid, mengingat tantangan di industri penerbangan masih berat. Ditambah lagi, kecenderungan industri maskapai yang membentuk oligopoli. "Apalagi performa saham maskapai lainnya saat ini belum terlalu kuat," pungkas Suria Dharma.


Gejolak Pasar
Director Investment Banking PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Mukti Wibowo Kamihadi berpendapat, minat perusahaan melangsungkan IPO pada tahun 2019 masih tetap ada meski situasi pasar belakangan ini belum terlalu kondusif di tengah tekanan dari eksternal maupun domestik.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara year to date juga masih mencatatkan kinerja negatif 2,76%.

BEI telah mengantongi daftar perusahaan yang akan mencatatkan saham perdana. Ada 29 perusahaan yang siap menjadi emiten di BEI yang rata-rata menggunakan acuan laporan keuangan bulan Juni dan Agustus tahun buku 2019. Dari jumlah itu, salah satu calon perusahaannya adalah Lion Air.

Bila ke-29 perusahaan ini merealisasikan menjadi perusahaan publik di tahun 2019, maka BEI sudah mengantongi setidaknya 69 perusahaan tercatat hingga akhir tahun.

Hingga Rabu kemarin, dengan masuknya perusahaan pengolah logam dan bahan mineral, PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE), maka sudah ada 40 perusahaan tercatat dari sejak awal tahun ini.

"Pasar sekarang kondisinya kurang favorable, tapi kita melihat IPO masih ada pasarnya dan itu semua tergantung perusahaan yang akan IPO, apakah bagus industrinya, menarik atau tidak. Banyak faktor yang jadi kunci sukses IPO, pasar adalah salah satunya," kata Mukti Wibowo saat ditemui di BEI, Jakarta, Rabu (9/10/2019).

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading